Berita Terbaru Lihat Dibawah ini

Resume Bab 3 (Resensi Buku Prof. DEDDY MULYANA, M.A., Ph.D)


BAB 3
Prinsip-Prinsip Komunikasi
Seperti fungsi dan definisi komunikasi , prinsip-prinsip komunikasi juga diuraikan dengan berbagi cara oleh pakar komunikasi
juga diuraikan dengan berbagai cara oleh para pakar komunikasi, dengan menggunakan istilah-istilah lain untuk merujuk pada prinsip prinsip komunikasi ini. Willian B. Gudykunst dan Young Yun Kim, menyebutnya asumsi-asumsi Komunikasi, Cassandra L.Book, Bert E. Bradley, Larry A. Samovar dan Richard E.Porter, Sarah Trenholm, dan Arthur Jensen, menyebutnya karakteristik komunikasi.

Berikut adalah Prinsip-prinsip komunikasi :

-PRINSIP 1 : KOMUNIKASI ADALAH SUATU PROSES SIMBOLIK
-PRINSIP 2 : SETIAP PERILAKU MEMPUNYAI POTENSI KOMUNIKASI
-PRINSIP 3 : KOMUNIKASI PUNYA DIMENSI ISI DAN DIMENSI HUBUNGAN
-PRINSIP 4 : KOMUNIKASI ITU BERLANGSUNG DALAM BERBAGAI TINGKAT KESENGAJAAN
-PRINSIP 5 : KOMUNIKASI TERJADI DALAM KONTEKS RUANG DAN WAKTU
-PRINSIP 6 : KOMUNIKASI MELIBATKAN PREDIKSI PESERTA KOMUNIKASI
-PRINSIP 7 : KOMUNIKASI ITU BERSIFAT SISTEMIK
-PRINSIP 8 : SEMAKIN MIRIP LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA SEMAKIN EFEKTIFLAH KOMUNIKASI
-PRINSIP 9 : KOMUNIKASI BERSIFAT NONSEKUENSIAL
-PRINSIP 10 : KOMUNIIKASI BERSIFAT PROSESUAL DINAMIS, DAN TRANSAKSIONAL
-PRISNSIP 11 : KOMUNIKASI BERSIFAT IRRESVERSIBLE
-PRINSIP 12 : KOMUNIKASI BUKAN PANASEA UNTUK MENYELESAIKAN BERBAGAI MASALAH

#PRINSIP 1 :
KOMUNIKASI ADALAH SUATU PROSES SIMBOLIK

Salah satu kebutuhan pokok manusia, adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang.
Ernst Cassier mengatakan bahwa keunggulan manusia atas makhluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum.
Lambang atau symbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok orang.
Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama.
Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antara manusia dan objek (baik abstrak mau pun nyata) tanpa kehadirah manusia dan objek tersebut.
Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks.
Ikon adalah suatu benda fisik yang menyerupai yang direpresentasikannya. Representasi ini ditandai dengan kemiripan.

Indek adalah suatu tanda yang secara alamiah merepresntasikan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari desebut juga gejala (symptom). Indek muncul berdasarkan hubungan antara sebab akibat yang punya kedekatan eksistensi.

Lambang mempunyai beberapa sifat seperti berikut ini :

Terkait dengan prinsip-prinsip simbolik ini ada beberapa hal penting terkait dengan simbol atau lambang ini.
a. Lambang bersifat sembarang, mana suka atau sewenang-wenang
Hal ini berarti juga, bahwa lambang yang di gunakan manusia itu bersifat sembarang, tidak sama, karena lambang itu akan di gunakan sesuai denga kesepakatan antar pengguna lambag itu. Hal inilah yag kemudian membedakan pemaknaan simbol-simbol pada proses komunikasi pada beberapa jenis budaya yang berbeda (bahasan terkait dengan Komunikasi Antar Budaya).
b. Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna: kitalah yang memberi makna pada lambang
Ketika, suara singa di tiru manusia untuk mengekpresikan kemarahannya, sesungguhnya itu terbentuk karena manusia dan pelakunya mempersepsikn bahwa itu adalah kemarahan. Padahal pada saat pelakunya mendengar suara singa belum tentu dia sedang marah, bisa jadi dia sedang jatuh cinta. Akan tetapi karena kemudian di sepakati bahwa makna jika seseorang menggeram menggunakan suara yang menyerupai suara singa adalah kemarahan. Maka ketika itu kembali di gunakan pada lingkungan yang sama akan di maknai sebagai kemarahan.
Alam tidak menjelaskan kepada manusia, akan makna simbol-simbol yang mereka tawarkan, akan tetapi kembali lagi kebutuhan manusia akan simbol-simbollah yag kemudian membuat manusia membuat sendiri makna simbol tersebut, yang kemudian di akui dan di gunakan secara besama-sama.
c. Lambang itu bervariasi
Karena lambang itu sifatnya sewenang-wenang, dan makna juga di buat sendiri oleh pelakunya, maka lambang itupun bervariasi, sesuai dengan kesepakatan yang berlaku di dalam ruang suatu budaya tersebut. Sehingga pada kasusnya sering sekali kita temui bentrok-bentrok antar budaya yang disebabkan oleh perbedaan makna akan suatu budaya.
Saya ingin menceritakan sedikit cerita mengenai hal tersebut, di lingkungan sekitar rumah saya yang cenderung heterogen, hidup berdampingan beberapa etnis, suku dan agama yang berbeda. Kehidupan kami cenderungan damai dan jauh dari konflik. Hingga suatu hari, dua orang ibu-ibu berantem entah apa sebabnya mereka tiba-tiba berperang dengan sengitnya.
Hingga kemudian setelah pertengkaran mereka agak mereda, di ketahui seorang ibu katakanlah A, yang etnis serawai merasa cemburu kepada B, seorang yang berasal dari palembang karena si B menggunakan kata “KAMU” saat berbincang-bincang dengan suami si A. Si B yang tidak terima di marah kemudian mencoba membela diri. Hingga akhirnya terjadi pertengkaran yang lumayan menghebohkan.
Ternyata, ada perbedaan makna simbol yang tidak sama-sama di pahami oleh A dan B, bahwa bagi masyarakat serawai, kata “Kamu” itu dipergunakan untuk pasangan suami Istri atau pasangan kekasih, sedangkan bagi orang-orang palembang, kata “Kamu” adalah sebuah sapaan saja, da itu adalah cara menyapa yang cukup sopan.
Nah dari narasi tersebut, mudah-mudah dapat membantu kita dalam memahami mengenai pemaknaan simbol-simbol dalam prinsip-prinsip komunikasi tersebut. Sehingga kemudian dalam proses perkembangan tekhnologi komunikasi juga di ciptakan tekhnologi-tekhologi untuk mengatasi persoalan-persoalan dengan pemaknaan simbol ataupun bagaimana juga dikembangkan upaya untuk mengurangi konflik-konflik terjadi dikarenakan sifat-sifat simbol tersebut.


#PRINSIP 2 :
SETIAP PERILAKU MEMPUNYAI POTENSI KOMUNIKASI

Kita tidak dapat tidak berkomunikasi (We cannot not communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Komuniikasi terjadi bila seseorang memberikan makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri.
Pada prinsipnya, komunikasi adalah proses pertukaran pesan antara orang-orang yang memiliki satu kesatuan isyarat. Hal ini dapat di defenisikan juga, bahwa setiap peserta komunikasi memiliki pemahaman yang sama terhadap isyarat-isyarat yang di gunakan dalam proses komunikasi.
Prinsip inilah yang kemudian perlu diperhatikan bagi kita untuk merencanakan sebuah proses komunikasi. Bagaimana pesan akan kita sampaikan, dan seperti apa respon yang kita butuhkan. Sehingga kemudian pesan tersebut akan benar-benar di pahami oleh komunikannya dan proses komunikasi dapat berjalan secara efektif.


#PRINSIP 3 :
KOMUNIKASI PUNYA DIMENSI ISI DAN DIMENSI HUBUNGAN

Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukan bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaraktkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu, dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Tidak semua orang menyadari bahwa pesan yang sama bisa ditafsirkan berbeda bila disampaikan dengan cara berbeda. Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan sedangkan dimensi hubungan merujuk kepada unsur2 lain terlasuk juga jenis saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pengaruh suatu pesan juga akan berbeda bila disjikan dengan media yang berbeda.


#PRINSIP 4 :
KOMUNIKASI ITU BERLANGSUNG DALAM BERBAGAI TINGKAT KESENGAJAAN

Komunikasi dilakkan dalam berbagai tingkat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak sengaja sama sekali (missal ketika anda melamun sementara orang memperhatikan anda) hingga komunikasi yang benar-benar direnacanakan dan disadari (ketika anda menyampaikan suatu pidato). Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Meskipun kita sama sekali tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, perilaku kita potensial untuk ditafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita. Dalam berkomunikasi., kesadaran kita lebih tinggi dalam situasi khusus alih-alih dalam situasi rutin. Dalam komunikasi sehari-hari terkadang kita mengucapkan pesan verbal yang tidak kita sengaja. Namun lebih banyak pesan nonverbal yang kita tunjukan tanpa kita sengaja. Komunikasi telah terjadi bila penafsiran telah berlangsung. Terlepas dari apakah anda menyengaja perilaku tersebut atau tidak. Kadang-kadang komunikasi yang disengaja dibuat tampak tidak sengaka. Jadi, niat kesengajaan bukanlah syarat mutlak bagi seseorang untuk berkomunikasi. Dalam komunikasi antara orang-orang berbeda budaya ketidak sengajaan berkomunikasi ini lebih relevan lagi untuk kita perhatikan.

#PRINSIP 5 :
KOMUNIKASI TERJADI DALAM KONTEKS RUANG DAN WAKTU

Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan ruang (termasuk iklim, suhu intensitas cahaya, dan sebagainya), waktu, sosial dan psikologis. Waktu mempengaruhi makna terhadap suatu pesan. Kunjugan seorang mahasiswa kepada teman kuliahnya yang wanita pada malam minggu akan dimaknai lain bila dibandingkan dengan kedatangannya pada malam biasa.
Kehadiran orang lain, sebagai konteks sosial juga akan mempengaruhi orang- orang yang berkomunikasi. Pengaruh konteks waktu dan konteks sosial terlihat pada suatu keluarga yang tidak pernah tersenyum atau menyapa siapapun pada hari-hari biasa, tetapi mendadak menjadi ramah pada hari-hari lebaran. Penghuni rumah membuka pintu rumah mereka lebar-lebar, dan mempersilahkan tamu untuk mencicipi makanan dan minuman yang mereka sediakan.
Suasana psikologis peserta komunikasi tidak pelak mempengaruhi juga suasana komunikasi. Komentar seorang istri mengenai kenaikan harga kebutuhan rumah tangga dan kurangnya uang belanja akan ditanggapi dengan kepala dingin oleh suaminya dalam keadaan biasa atau keadaan santai, boleh jadi akan membuat sang suami berang bila istri menyampaikan komentar tersebut saat suami baru pulang kerja dan dimarahi habis-habisan oleh atasannya hari itu.


#PRINSIP 6 :
KOMUNIKASI MELIBATKAN PREDIKSI PESERTA KOMUNIKASI

Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan atau tatakrama. Artinya, orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespons. Prediksi ini tidak selalu disadari, dan sering berlangsung cepat. Kita dapat memprediksi perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya.
Prinsip ini mengansumsikan bahwa hingga derajat tertentu ada keteraturan pada perilaku komunikasi manusia. Dengan kata lain, perilaku manusia, minimal secara parsial, dapat diramalkan. Kalau semua perilaku manusia itu bersifat acak, selalu tanpa diduga hidup kita akan sulit.


#PRINSIP 7 :
KOMUNIKASI ITU BERSIFAT SISTEMIK

Setiap individu adalah suatu system yang hidup ( a living system ). Komunikasi juga menyangkut suatu system dari unsure-unsurnya. Setidaknya dua system dasar beroprasi dalam transaksi komunikasi itu : system internal dan eksternal. Sistem internal iti adalah seluruh system nilai yang dibawa oleh seorang individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia cerap selama sosialisasinya dalam eberbagai lingkungan sosialnya. Istilah lain yang identik dengan system internal ini adalah kerangka rujukan (frame of reference), bidang pengalaman (field of experience), struktur cognitive (cognitive structure), pola pikir (thinking patterns), keadaan internal (internal states), atau sikap (attitude). Pendeknya system internal ini mengandung semua unsure yang membentuk individu yang unik, termasuk cirri-ciri kepribadiannya, intelegensi, pendidikan, pengetahuan, agama, bahasa, motif keinginan, cita2, dan semaua pengalaman masalalunya, yang pada dsarnya tersembunyi. Kita haya dapat menduganya lewat kata yang ia ucapkan dan atau perilaku yang ia tunjukan. Setiap individu adalah system intermal.

Terdapat dua sistem dasar dalam transaksi komunikasi, yaitu Sistem Internal dan Sistem Eksternal. Sistem internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasim yang ia cerap selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan sosialnya (keluarga, masyarakat setempat, kelompok suku, kelompok agama, lembaga pendidikan, kelompok sebaya, tempat kerja, dan sebagainya). Istilah-istilah lain yang identik dengan sistem internal ini adalah kerangka rujukan (frame of reference), bidang pengalaman (field of experience), struktur kognitif (cognitive structure), pola pikir (thinking patterns), keadaan internal (internal states), atau sikap (attitude). Pendeknya, sistem internal ini mengandung semua unsur yang membentuk individu yang unik, termasuk ciri-ciri kepribadiannya, intelegensi, pendidikan, pengetahuan, agama, bahasa, motif, keinginan, cita-cita, dan semua pengalaman masa lalunya, yang pada dasarnya tersembunyi.
Berbeda dengan sistem internal, sistem eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu, termasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik peserta komunikasi, kegaduhan disekitarnya, penataan ruangan, cahaya, dan temperatur ruangan. Elemen-elemen ini adalah stimuli publik yang terbuka bagi setiap peserta komunikasi dalam setiap transaksi komunikasi. Akan tetapi, karena masing-masing orang mempunyai sistem internal yang berbeda, maka setiap orang tidak akan memiliki bidang perseptual yang sama, meskipun mereka duduk di kursi yang sama dan menghadapi situasi yang sama.
Maka dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah produk dari perpaduan antara sistem internal dan siste eksternal tersebut. lingkungan dan objek mempengaruhi komunikasi kita, namun persepsi kita atas lingkungan kita juga mempengaruhi cara kita berperilaku.

#PRINSIP 8 :
SEMAKIN MIRIP LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA SEMAKIN EFEKTIFLAH KOMUNIKASI

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi). Misalnya, penjual yang datang kerumah untuk mempromosikan barang dianggap telah melakukan komunikasi efektif bila akhirnya tuan rumah membeli barang yang ia tawarkan, sesuai yang diharapkan penjual itu, dan tuan rumah pun merasa puas dengan barang yang dibelinya.
Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis sama, meskipun mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam keluarga yang sama, diberi makan yang sama dan dididik dengan cara yang sama. Namun kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat ekenomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih efektif. Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang-orang yang berkomunikasi lebih mudah mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orang-orang yang tidak memahami bahasa yang sama.


#PRINSIP 9 :
KOMUNIKASI BERSIFAT NONSEKUENSIAL

Meskipun terdapat banya model komunikasi linier atau satu arah, sebenarnya komunikasi manusia dalam bentuk dasarnya (komunikasi tatap-muka) bersifat dua-arah (sifat sirkuler). Ketika seseorang berbicara kepada seseorang lainnya, atau kepada sekelompok orang seperti dalam rapat atau kuliah, sebetulnya komunikasi itu bersifat dua-arah, karena orang-orang yang kita anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi “pembicara” atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku nonverbal mereka.
Misalnya Frank Dance, Kincaid, dan Schramm yang mereka sebut model komunikasi antarrmanusia yang membusat, dan Tubbs. Komunikasi sirkuler ditandai dengan beberapa hal berikut :

1. Orang-roang yang berkomunikasi dianggap setara
2. Proses Komunikasi berjalan timbale balik (dua arah)
3. Dalam praktiknya, kita tidak lagi membedakan pesan dengan umpan balik.
4. Komunikasi yang terjadi sebenernya jauh lebih rumit.

Meskupun sifat sirkuler digunakan untuk menandai proses komunikasi, unsut proses komunikasi sebenrnya tidak terpola secara kaku. Pada dasarnya, unsure tersebut tidak berdada dalam suatu tatanan yang bersifat linier, sirkuler, helical atau tatanan lainnya. Unsur2 proses komunikasi boleh jadi beroprasi dalam suatu tatanan tadi, tetapi mungkin pula, setidaknya sebagaian, dalam suatu atatnan yang acak. Oleh karena itu, sifat nonsekuensial alih-alih sirkuler tampaknya lebih tepat digunakan untuk menandai proses komunikasi.

#PRINSIP 10 :
KOMUNIIKASI BERSIFAT PROSESUAL DINAMIS, DAN TRANSAKSIONAL

Seperti juga waktu dan eksistensi, komunikasi tidak mempunyai awal dan tidak mempunyai akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung (continunous), Bahkan kejadian sangat sederhana yang rumit bila pendengar memenuhi permintaan tesebut.
Komunikasi tidak mempunyai awal dan akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung (continues). Komunikasi sebagai proses ini dapat dianalogikan dengan apa yang dikatakan Heraclitus enam abag sebelum Masehi bahwa: “Seorang manusia tidak akan pernah melangkah di sungai yang sama dua kali”.
Komunikasi terjadi sekali waktu dan kemudian mwnjadi bagian dari sejarah kita. Dalam proses komunikasi, para peserta komunikasi saling mempengaruhi, seberapa kecil pun pengaruh itu, baik lewat komunikasi verbal maupun nonverbal. Pernyataan bahwa komunikasi telah terjadi sebenarnya bersifat artificial dalam arti bahwa kita mencoba menangkap suatu gambaran diam (statis) dari proses tersebut dengan maksud untuk menganalisis kerumitan peristiwa tsb, dengan menonjolkan komponen2 atau aspek2 yang penting. Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa para peserta komunikasi berubah (dari sekeedar berubah pengetahuan hingga berubah pandangan dunia dan perilakunya). Implosot dalam proses komunikasi sebagai transaksi ini adalah proses penyadian (encoding) dan penyadian balik (decoding). Para peserta komunikasi merupakan sumber informasi, dan masing2 memberi serta menerima epsan secara serentak. Kedudanya pada saat yang sama saling mempengaruhi.Padnangan yang dinamis dan transaksional member penekanan bahwa anda mengalami perubahan sebagai hasil terjadinya komunikasi. Perspektif transalksional member penekanan pada dua sifat peristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling mempengaruhi para pesertanya menjadi saling bergantung dan komunikasn mereka hanya dapat dianalisis berdasarkan konteks peristiwanya

#PRISNSIP 11 :
KOMUNIKASI BERSIFAT IRRESVERSIBLE

Suatu perilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena merupakan suatu peristiwa, perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat “diambil kembali.” Bila anda memukul wajah seseorang dan meretakkan hidungnya, peristiwa tersebut dan konsekuensinya telah “terjadi”; Anda tidak dapat memutar kembali jarum jam dan berpura-pura seakan-akan hal itu tidak pernah terjadi.
Senada dengan peristiwa di atas, dalam komunikasi, sekali Anda mengirimkan pesan, Anda tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi khalayak, apalahi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali.
Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Prinsip ini seyogianya menyadarkan kita bahwa kita harus hati-hati untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab, yaitu tadi, efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali, meskipun kita berupaya meralatnya. Apalagi bila penyampaian itu dilakukan untuk pertama kalinya. Curtis et al., mengatakan bahwa kesan pertama itu cenderung abadi.
Dalam komunikasi massa, sekali wartawan menyiarkan berita yang tanpa disengaja mencemarkan nama baik seseorang, maka nama baik orang itu akan sulit dikembalikan lagi ke posisi semula, meskipun surat kabar, majalah, radioatau televisi telah meminta maaf dan memuat hak jawab sumber berita secara lengkap.
Sekali anda mengirimkan suatu pesan, anda tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi khalayyak apalagi menghilangkan efek persantersebut sama sekali. Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai suatu proses yang selalu berubah. Prinsip ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita harus berhati2 untuk menyampaikan suatu pesan kepad aorang lain, sebab yaitu tadi, efeknya tidak bisa ditiadakan sama sekali. Meskipun kita berusaha meralatnya, apalagi bila penyampaian pesan itu dilakukan untuk pertama kalinya Dalam kkomunikasi massa, sekali wartawan menyiarkan suatu berita yang tanpa disengaja mecemarkan nama baik  seseorang

#PRINSIP 12 :
KOMUNIKASI BUKAN PANASEA UNTUK MENYELESAIKAN BERBAGAI MASALAH

Banyak persoalan dan konflik antarmanusia disebabkan oleh masalah komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk menyelasaikan persoalan atau tersebut mungkin berkaitan dengan masalah struktural. Agar komunikasi efektif, kendala struktural ini juga harus diatasi. Misalnya, meskipun pemerintah bersusah payah menjalin komunikasi yang efektif dengan warga Aceh dan warga Papua, tidak mungkin usaha itu akan berhasil bila pemerintah memberlakukan masyarakat di wilayah-wilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan mengangkutnya ke pusat

BAB 4
MODEL-MODEL KOMUNIKASI

Untuk lebih memahami fenomena komunikasi, digunakan model-model komunikasi. Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata maupun abstrak, dengan menonjolkan unsure-unsur terpenting fenomena tersebut. Model jelas bukan fenomena itu sendiri. Akan tetapi, peminat komunikasi sering mencampuradukan model komunikasi dengan fenomena komunikasi. Sebagai alat untuk menjelaskan fenomena komunikasi, model mempermudah penjelasan tersebut. Hanya asaja model tersebut sekaligus mereduksi fenomena komunikasi; artinya ada suasana komunikasi lainnya yang mungkin terabaikan dan tidak terjelaskan oleh model tersebut. Sisi negative dari model adalah model dapat menyesatkan kita. Menurut Sereno Moretensen, model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Model komunikasi mempresentasikan secara abstrak cirri – ciri penting dan menghilangkan rincian komunikasi yang tidak perlu dalam dunia nyata. Sedangkan B. Aubrey Fisher mengatakan, model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsure, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori. Dengan kata lain, model adalah teori yang lebih di sederhanakan. Atau, seperti dikatakan Werner J. Severin dan James W. Tankard, Jr., model membantu merumuskan teori dan menyarankan hubungan.
download.jpg
FIGUR 4.1
Teorema Pythagoras


FUNGSI DAN MANFAAT MODEL

Model dapat berfungsi sebagai basis bagi teori yang lebih kompleks, alat untuk menjelaskan teori dan menyarankan cara – cara untuk memperbaiki konsep-konsep. Sehubungan dengan model komunikasi, Gordon Wishman dan Lerry Barker mengemukakan bahwa model komunikasi mempunyai tiga fungsi : 1, melukiskan proses komunikasi ; 2, menujukan hubungan visual; dan 3, membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi. Deutsch menyebutkan bahwa model mempunyai empat fungsi: mengorgansasikan yang tadinya tidak teramati: heuristic ;prediktif, memungkinkan peramalan dari sekedar tipe ya atau tidak hingga yang kuantitatif yang berkenaan dengan kapan dan berapa banyak; pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi.
Fungsi-fungsi tersebut pada gilitrannya merupakan basis untuk menilai suatu model:
1.       Seberapa umum model tersebut? Seberapa banyak bahan yang diorganisasikannya, dan seberapa efektif?
2.       Seberapa heuristic model tersebut? Apakah ia membantu menemukan hubungan-hubungan baru, fakta, atau metode?
3.       Seberapa penting prediksi yang di buat dari model tersebut bagi bidang penelitian? Seberapa strategis prediksi itu pada tahap perkembangan bidang tersebut?
4.       Seberapa akurat pengukuran yang dapat dikembangkan dengan model tersebut?
Deutsch juga menambahkan criteria berikut untuk menilai model :
1.       Seberapa orisinal model tersebut? Seberapa banyak pandangan baru yang ditawarkannya?
2.       Bagaimana kesederhanaan dan kehematan model tersebut?
3.       Seberapa nyata model tersebut? Seberapa jauh kita bergantung padanya sebagai representasi realitas fisik?
Pembuatan model jelas memberikan manfaat kepada para ilmuan. Sebagai kemajuan ilmu pengetahuan justru dihasilkan oleh egagalan sebuah model. Karya Einstein adalah perkembangan dari eksperimen Michelson-Morley yang menujukan model eter menimbulkan prediksi yang gagal. Keuntungan lain pembuatan model, menurut Bross adalah terbukanya problem abstraksi. Dunia nyata adalah lingkungan yang sangat rumit. Suatu tingkat abstraksi dibutuhkan untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, pembuatan model juga harus memutuskan cirri-ciri apa dari dunia nyata, misalnya dari fenomena komunikasi, yang akan dimasukan kedalam sebuah model. Menggunakan pendapat Reymond S. Ross, model memberikan kita pengelihatan yang lain, berbeda, dan lebih dekat; model menyediakan kerangka rujukan, menyarankan kensenjangan informasional, menyoroti problem abstraksi, dan menyatakan suatu problem dalam bahasa simbolik bila terdapat peluang untuk menggunakan gambar atau symbol.

TIPOLOGI MODEL

Kita dapat menggolongkan model dengan berbagai cara. Gerhard J. Hanneman dan William J. McEwen, mengambarkan taksonomi model dengan mudah dipahami, dalam suatu grafik, yang melukiskan derajat abstraksi yang berlainan.
(misalnya E=mc2) dan model verbal :lalu model fisik yang terdiri dari model ikonik dan model analog

1untitled.jpg 
FIGUR 4.2 Bentuk-bentuk model dari Gerhard J .Hanneman dan William J.Mc Ewen
Sumber :Marry B. Dan Molefi K Asante Mass Communication Principles and Practices New York Machmillan 1979, hlm 64

Model verbal adalah model atau teori yang dinyatakan dengan kata-kata, msekipun bentuknya sederhana. Model verbal sering dibantu dengan grafik, diagram atau gamabar. Raymond S. Ross menyebut model demikian sebagai model verbal-piktorial. 13 model grafik atau model diagramatik secara sekematis menampilakn apa yang dapat disajikan dengan sekadar kata-kata.
Model fisik secara garis besar terbagi dua, yakni model ikonik yang penampilan umumnya (ruap, bentuk, tanda-tanda) menyerupai objek yang dimodelkan, seperti model pesawat terbang, bonekam mannequin,  market sebuah gedung atau sebuah kompleks perumahaan, dan sebagainya dan model analog yang mempunyai bentuk disiknya tidak serupa, sperti komputer yang fungsinya menyerupai fungsi otak manusia.
Model pesawat terbang jauh lebih mudah dipelajari daripada pesawat terbang yang sebenarnya karena berbagai alasan. Model menyenangkan ditangani dan dimanipulasi. Model juga lebih seberhana daripada pesawat terbang yang sebenarnya, dan prinsip-prinsip bekerjanya mungkin juga lebih jelas. Namun tentu saja ada bahaya oversimplifikasi. Sebagian ciri pesawat terbang yang sebenarnya mungkin terabaikan bila kita terlalu memperhatikan modelnya inilah resiko mempelajari fenomena lewat model.
Menurut Bross, model menyajikan suatu proses abstraksi. Pesawat terbang yang sebenarnya mempunyai banyak atribut seperti benruk, berat, warna cara kerja, dan sebagainya. Hanya sebagian saja dari sekian banyak atribut yang ditiru dalam model tersebut.
Dalam dunia ilmu, model fisik kadang-kadang digunakan untuk tujuan pengajaran. Model bumi (globe), model ilmu kedokteran, model tata surya dll, semuanya mempunyai peranan penting untuk menjelaskan kegunaan ilmu tersebut.
Bross berpendapat, ada pelajaran moral dan intelektual dari peristiwa tersebut. Para ilmuan kadang-kadang terlalu terikat dengan suatu model, meskipun model itu tidak memungkinkan prediksi yang memadai. Sekali lagi, inilah salah satu kerugian atau bahaya pembuatan model.
Pengembangan model simbolik, khususnya model matematik. Penting dalam profesi ilmuawan. Kemajuan ilmu pengetahuan antara lain ditAndai dengan pemunculan model baru yang berguna. Dalam fisika, model Issac Newton dan model Albert Einstein (teori reletivitas), dan model kuantum, adalah banyak contohnya. Pembuatan model adalah upaya penting dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kuantitas model yang dihasilkan menAndai kematangan ilmiah disiplin tersebut. Dibutuhkan imajinasi dan pAndangan hal itu tidak otomatis memadai. Model-model itu harus lulus pengujia yang dilakukan siapaun sepanjang waktu. Bross 15 menggambarkan interaksi model dan data tersebut sebagai berikut:
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/2.jpg?w=336&h=108
FIGUR 4.3 Interaksi antara model dan data
Berdasarkan model-model komunikasi Lasswel, Shannon dan Weaver, serta Schararam, yang lenier namun terkenal itu misalnya, muncul model-model lain yang sirkuler, yang merupakan perbaikan atau penyempurnaan dari model-model tadi. Dilihat dari jumlah unsur-unsur yang di identifikasi dalam fenomena komunikasi, model-model lam tidak disebutkan, misalnya lingkungan fisk, seperti dal model gudykunst dan Kim.16  dan konteks waktu dalam model Tubbs.17

MODEL-MODEL KOMUNIKASI : SUATU PERKENALAN
Seperti model pesawat terbang, model komunikasi kurang lebih adalah repilka  kebanyakan sebagai model diagramatik dari dunia nyata
Oleh karena komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi sulit dimodelkan
Model S – R
Model stimulus – respons (S – R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khusunya yang beraliran behavior. Model tersebut menggambarkan hubungan stimulus – respons.
Stimulus<—————————->Respons
FIGUR 4.4 Model S – R
Model ini menunjukkan komunikasi sebagai proses aksi reaksi yang sangat sederhana.
Seperti model pesawat terbang, model komunikasi kurang lebih adalah repilka Pada umumnya tidak ada suatu model yang berhasil muncul dengan tiba-tiba. Berdasarkan model-model komunikasi Laswell, Shannon dan Weafer, serta Schramm, yang linier namun terkenal itu misalnya, muncul model-model lain yang sirkuler, yang merupakan perbaikan atau penyempurnaan dari model-model tadi. Oleh karena sifat fenomena social yang sangat cair, dinamis, dan berubah-ubah, yang membedakan perilaku manusia dengan perilku objek alam yang dianggap statis, pembuatan fenomena sosialmenjadi lebih sulit. Bukanlah hal yang aneh bila terdapat dua model komunikasi yang tampak bertentangan, seperti antara model stimulus – respon (S-R) dan model interaksional.
Model komunikasi kurang lebih adalah replica—kebanyakan sebagai model diagramatik – dari dunia nyata. Oleh karena komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi sulit di modelkan. Akan tetapi, seperti disarankan dimuka, penggunakan model berguna untuk mengidentifikasi unsure komunikasi dan bagaimana unsure-unsur tersebut berhubungan. Model stimulus-respon (S-R) adalah model komunikasi paling besar. Model ini dipengaruhi oleh psikologi, khususnya yang beraliran Behavoiristik. Model tersebut menggambarkan hubungan stimulus-respons. Model ini menunjukan komunikasi sebagai proses aksi-reaksi yang sangat sederhana. Model (S-R) mengasumsikan bahwa kata-kata verbal, isyarat-isyarat nonverbal, gambar – gambar dan tindakan –tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respon dengan cara tertentu. Proses ini daopat bersifat timbal-balik dan mempunyai banyak efek. Pola S-R ini dapat pula berlangsung negative. Model S-R mengabaikan komunikasi sebagai suatu proses, khususnya yang berkenaan dengan factor manusia. Secara implicit ada asumsi dalam model S-R ini bahwa perilaku manusia dapat diramalkan. Ringkasnya, komunikasi dianggap statis; manusia dianggap berperilaku karena kekuatan dari luar, bukan bersasarkan kehendak, keinginan, atau kemauan bebasnya.

Model Aristoteles

Model Aristoteles adalah model komunikasi yang paling klasik yang sering juga disebut model retoris (rhetorical model).20  Filosof Yunani Aristoteles adalah tokoh paling idni yang mengkaji komunikasi, yang intinya adalah persuasi. Ia berjasa dalam merumuskan model komunikasi verbal pertama. Komunikasi terjadi kketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Tepatnya ia mengemukakan tiga unsur dasar proses komunikasi yaitu pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener).
Setting
Pembicara——–>Pesan—–>Pendengar
                                                               Setting
FIGUR 4.7 Model Aristoteles
 Fokus komunikasi yang ditelaah Aristoteles adalah komunikasi retoris, yang kini dikenal dengan komunikasi public atau pidato. Menurut Aristoteles, persuasi dapat dicapai oleh siapa Anda, argument Anda. Dengan kata lain factor-faktor yang memainkan peran dalam menentukan efek persuasive, meliputi isi pidato,
Menurut Aristoteles, persuasi dapat dicapai oleh siapa Anda (etos-kepercayaan Anda), argumen Anda (Logos-logika dalam pendapat Anda), dan dengan memainkan emosi khalayak (pathos- emosi banyak). Dengan kata lain, faktor-faktor yang memainkan peran dalam, menentukan efek persuasif suatu pidato meliputi isi pidato, susunannya, dan cara penyampainnya. Aristoteles juga menyadari peran khalayak pendengar. Persuasif berlangsung melalui khalayak ketika mereka diarahkan oleh pidato itu ke dalam suatu keadaan emosi tertentu.
 susunannya, dan cara penyampaiannya. Salah satu kelemahan model ini adalah komunikasi dianggap fenomena yang statis. Disamping itu, model ini juga berfokus pada komunikasi yang bertujuan ( disengaja ) yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk oranglain untuk menerima pendapatnya. Kelemahan lain model Retoris ini adalah tidak dibahasnya aspek-aspek non verbal dalam persuasi. Meskipun demikian model Aristoteles ini telah mengilhami para pakar komunikasi lainnya untuk merancang model – model komunikasi yang lebih baik.

Model Lasswell

Seperti dibahas dalam Bab 2 , model komunikasi Laswell berupa ungkapan verbal yakni  Who
Syas What
In Which Channel
Wo Whoam
With What Effect

Model ini di kemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948 yang menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya dalam masyarakat. Lasswel mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pertama, pengawasan lingkungan- yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkungan; keduakorelasi berbagai bagian  terpisah dalam masyarkat yang merspons lingkungan; dan ketiga transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya.
Lasswel juga mengakui bahwa tidak semua komunikasi bersifar dua arah, dengan suatu aliran yang lancar dan umpan balik yang terjadi antara pengirim dan penerima pesan. Dalam masyarakat yang kompleks, banyak informasi yang disaring oleh pengendali pesan-editor, penyensor atau propagandis, yang menerima informasi dan menyampaikannya kepada publik dengan beberapa perubahan atau penyimpangan.
Model Lasswel sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan bahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Unsur sumber (who) merangsangkan pertanyaan mengenai pengendalian pesan (misalnya oleh “penjaga gerbang”), sedangkan unsur pesan (says what) merupakan bahan untuk analisis isi. Saluran komunikasi (in which channel) dikaji dalam analisis media. Unsur penerima (to whom) dikaitkan dengan analisis khalayak, sementara unsur pengaruh (whit what effect) jelas berhubungan demgam studi mengenai akibat yang ditimbulkan pesan komunikasi massa pada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa.
Model Lasswel dikritik karena model itu tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model itu juga dianggap terlalu menyederhanakan masalh. Tetapi, seperti setiap model yang baik, model Lasswel memfoukskan perhatian pada aspek-aspek penting komunikasi
Model Shannon dan Weaver

Salah satu model awal komunikasi dikemukakan Claude Sannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical Theory of Communications. Model Shannon dan Weaverini menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya.
Shannon dan Weaver menawarkan model komunikasi berikut ini:
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/3.jpg?w=300&h=123
FIGUR 4.8 Model Shannon dan Weaver
Model Shannon dan Weaver ini menyoroti problem menyampaikan pesan berdasarkan tingkat kecermatan. Model itu melukiskan suatu sumber yang menyandi atau menciptakan pesan dan menyampaikan melalu suatu saluran kepada seorang penerima yang menyandi balik atau mencipta ulang pesan tersebut. Dengan kata lain, model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan.
Suatu konsep penting dalam model Shannon dan Weaver in adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat menggangu kecermatan pesan disampaikan.
Konsep-konsep lain yang merupakan andil Shannon dan Weaver adalah entropi (entropy) dan redundasi (redundancy) serta keseimbangan yang diperlukan di antara kedunay umtuk menghasilkan komunikasi yang efisien dan pada saat yang sama mengatasi gangguan dalam saluran. Secara ringkas semakin banyak gangguan maka semakin besar pula kebutuhan redudansi, yang mengurangi entropi relatif pesan.
Model ini mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noice), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Gangguan ini bias merupakan interferensi statis atau suatu panggilan telepon, music yang hingar binger di sebuah pesta, atau sirene di luar rumah. Menuru Shannon dan Weaver, gangguan ini selalu ada dalam saluran bersama pesan tersebut yang diterima oleh penerima. Konsep – konsep lain yang merupakan andil Shannon dan Weaver adalah Etropi dan Redundansi serta keseinmbangan yang diperlukan diantara keduanya untuk menghasilkan komunikasi yang efisien dan pada saat yang sama mengatasi gangguan dalam saluran. Secara ringkas, semakin banyak gangguan, semakin besar kebutuhan akan redundansi, yang mengurang Etropi relative pesan. Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi public atau komunikasi massa. Sayangnya, model ini juga memberikan gambaran yang persial mengenai proses komunikasi.

Meskipun model ini sangat terkenal dalam penelitian komunikasi selama bertahun-tahun, tulisan-tulisan Shannon dan Weaver sulit dipahami. Misalnya, formula Shannon untuk informasi (1948) adalah sebagai berikut:
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/4.jpg?w=614

Dalam upaya menguraikan informasi sebagai reduksi ketidakpasitian, Shannon menggunakan istilah entropi, dan dalam formula itu, H adalah simbol matematis bagi entropi, ∑ adalah simbol untuk “jumlah,” padalah probabilitas suatu peristiwa yang terjadi, dan log p adalah informasi i yang diperlukan untuk meramalkan terjadinya peristiwa i


Model Schramm

Wilbur Schramm membuat serangkai model komunikasi, dimulai dengn model komunikasi manusia yang sederhan (1954), lalu model yang lebih rumit yang memperhitungkan pengalaman dua individu yang mencoba berkomunikasi, hingga ke model komunikasi yang dianggap dua interaksi individu. Dalam modelnya Schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman sumber dan sasaranlah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Model ketiga Schramm menganggap komuniksai sebagai interaksi kedua pihak yang menyandi, menafsirkan, menyandi-balik, mentrasmisikan dan menerima sinyal.
Menurut Wilbur Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsure: sumber, pesan, dan sasaran. Schramm berpendapat, meskipun dalam komunikasi lewat radio atau telepon encoder dapat berupa mikrofon dan decoder adalah earphone, dalam komunkasi manusia, sumber dan encoder adalah satu orang, sedangkan decoder dan sasaran adalah seorang lainnya, dan sinyalnya adalah bahasa.
.
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/5.jpg?w=300&h=281

FIGUR 4.9 Model Schramm
Schramm berpendapat, meskipun dalam komunikasi lewat radio ataupun telepon enkoder dapat berupa mikrofon dan dekoder adalah earphone, dalam komunikasi manusia, sumber dan enkoder adalah satu orang, sedangkan dekoder dan sasaran adalah seorang lainnya, dan sinyalnya adalah bahasa. Untuk menuntaskan suatu tindakan komunikasi (communication act) suatu pesan harus disandi balik.

Menurut Schramm, seperti ditunjukan model ketiganya, jelas bahwa setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai encoder dan decoder. Kita secara konstan menyandi – balik tanda – tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut, dan menyandi sesuatu sebagai hasilnya. Proses kembali dalam model diatas disebut umpan balik, yang memainkan peran sangt penting dalam komunikasi, karena hal itu member tahu kita bagaimana pesan kita ditafsirkan, baik dalam bentuk kata-kata sebagai jawaban, anggukan kepala, gelengan kepala, kening berkerut, menguap, wajah yang melengos dan sebagainya. Namun menurut Shcramm, umpan balik juga dapat berasal dari pesan kita sendiri, misalnya kesalahan ucapan atau kesalahan tulisan yang kemudian kita perbaiki. 

Model Newcomb

Theodore Newcomb (1953) memAndang komunikasi dari perspektif psikologi-sosial. Modelnya mengingatkan kita akan diagram jarinagn kelompok yang idbuat oleh para psikolog sosial dan merupakan formulasi awal mengenai konsistensi kognitif. Dalam model komunikasi tersebut-yang sering juga disebut model ABX atau model Simetri-Newcomb menggambarkan bahwa seseorang A, menyampaikan informasi kepad seorang lainnya, B mengenai sesuatu, X. Model tersebut mengasumsikan bahwa orientasi A (sikpa) terhadap B dan terhadap X saling bergantung, dan ketiganya merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat orientasi.
1.     Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap terhadap X sebagai objek yangharus didekati atai dihindari dan atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif
2.    Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama
3.    Orientasi B terhadap X
4.    Orientasi B terhadap A
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/6.jpg?w=614
FIGUR 4.10 Model ABX Newcomb

Simetri dimungkinkan karena sesorang (A) yang siap memperhitungkan prilaku seorang lainnya (B). Simetri juga mengesahkan orientasi seseorang terhadap X. Ini merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa kita memperoleh dukungan sosial dan psikologis bagi orientasi yang kita lakukan. Jika B yangkita hargai menilai X dengan cara yang sama seperti kita lakukan. Jika B yang kita hargai menilai X dengan cara yang sama seperti kita, kita cenderung lebh meyakini orientasi kita. Maka kita maka kita pun berkomunikasi dengan orang-orang yang kita hargai mengenai objek, peristiwa, orang, dan gagasan (semuanya termasuk X) yang penting bagi kita untuk mencapai kesepakatan atau koorientasi atau, menggukana istilah Newcomb, simetri. Asimetri dan merupakan bagian dari model Newcomb ketika orang “setuju untuk tidak setuju.”29
 http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/7.jpg?w=614
FIGUR 4.11 Model ABX Newcomb

 Dalam konteks ini, ketegangan mungkin akan muncul yang menuntut mereka untuk mencari keseimbangan dengancara mengubah sikap satu pihak terhadap pihak lainnya, atau sikap mereka terhadap X

Model Westley dan MacLean

 Tahun 1957, Bruce Westley dan Malcolm MacLean, keduanya teoritikus komunikasi, merumuskan suatu model yang mencakup komunikasi massa, dam proses komunikasi. Model umpan balik sebagai bagian integral dari proses komunikasi. Model Westley dan MacLean ini dipengaruhi oleh model Newcomb, selain juga oleh  model Lasswell dan model Shannon dan Weaver. Mereka menambahkan jumlah peristiwa, gagasan, objek dan orang yang tidak terbatas (dari X1, hingga X00), yang kesemuanya merupakan “objek orientasi,” menempatkan suatu peran C diantara A dan B, dan menyediakan umpan balik. 31
Dalam model Westley dan MacLean ini terdapat lima unsur, yaitu: objek orientasi, pesan, sumber, penerima, dan umpan balik. Sumber (A) menyoroti suatu objek atau peristiwa tertentu dalam lingkungannya (X) dan menciptakan pesan mengenai hali itu (X’) mengirimkan  yang ia kirimkan kepada penerima (fBA) mengenai pesan kepada sumber, seperti tampak dalam figur 4.12.
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/8.jpg?w=614
FIGUR 4. 12 Model Westley dan MacLean

Westley dan  MacLean ini dipengaruhi oleh model Newcomb, selain juga oleh Lasswell dan yang lainnya. Mereka menambahkan jumlah peristiwa, gagasan, objek dan orang yang tidak terbatass yang kesemuanya merupakan ”objek orientasi” menempatkan suatu peran C diantara A dan B, dan menyediakan umpan balik.
Dalam komunikasi massa, umpan balik dapat mengalir dengan tiga arah : dari penerima ke penjaga gerbang, dari penerima ke sumber media massa, dan dari pemimpin pendapat ke sumber media massa, sperti dalam Figur 4.13.
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/9.jpg?w=614

FIGUR 4.13 Model Westley dan MacLean

Westley dan MacLean tidak membatasi model mereka pada tingkat individu. Bahkan, mereka menekankan bahwa penerima mungkin suatu kelompok atau suatu lembaga sosial. Menurut merak, setiap individu, kelompok atau sistem mempunyai kebutuhan untuk mengirim dan menerima pesan sebagai sarana orientasi terhadap lingkungan.
Model Westley dan MacLean mencakup beberapa konsep penting yaitu umpan balik, perbedaan kemiripan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa, dan pemimpin endapat yang penting sebagai unsur tambahan dalam komunikasi massa.

Model Gerbner

Model Gerbner (1956) merupakan perluasan dari model Lasswell. ­34
Model ini terdiri dari model verbal dan model diagramatik. Model verbal Gerbner adalah sebagai berikut:

1.    Seseorang (sumber, komunikator)
2.    Mempersepsi suatu kejadian
3.    Dan beraksi
4.    Dalam suatu situasi
5.    Melalui suatu alat (saluran;media; rekayasa fisik; fasilitas administratif dan kelembagaan untuk distribusi dan kontrol)
6.    Untuk menyediakan materi
7.    Dalam suatu bentuk
8.    Dan konteks
9.    Yang mengandung isi
10.                Yang mempunyai suatu konsekuensi

Model diagramatik Gerbner adalah seperti yang tampak berikut ini:
 http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/10.jpg?w=614
FIGUR 4.15 Model Diagrmatik Gerbner (dibandingkan dengan model Shannon dan Weaver)

1.    Seseorang diperhatikan sebagai M yang berarti manusia (man) atau sebagai M bila urutan komunikasinya melibatkan alat mekanisme. M mungkin pengirim atau penerima pesan-perannya dimaknai berdasarkan letaknya dalam urutan komunikasi
2.    E’ adalah kejadian (event) sebagaima dipersepsi oleh M
3.    S/E adalah pernyataan mengenai peristiwa
4.    SSE adalah sinyal mengenai pernyataan mengenai kejadian
5.    SSSE adalah hasil yang dikomunikasikan
 Jadi, model Garbner menunjukkan bahwa seseorang mempersepsi suatu kejadian dan mengirim pesan kepada suatuTransmitter yang pada gilirannya mengirimkan sinyal kepada penerima (receiver); dalam transmisi itu sinyalnya menghadapi gangguan dan muncul sebagai SSSE bagi sasaran (destination). 36

Model Berlo

Model lain yang dikenal luas adalah model David K. Berlo, yang ia kemukakakn pada tahun 1960. Model ini dikenal dengan model SMRCR, kepanjangan dari Source (sumber), Message (pesan), Channel (saluran), dan Receiver(penerima). 37 Sebagaimana dikemukakan Berlo, sumber adalah pihak yang menciptakan pesan, baik seseorang ataupun kelompok. Pesan adalah terjemahan gagasan kedalam kode simbolik, seperti bahasa atau isyarat; saluran adalah medium yang membawa pesan; dan penerima adalah orangyang menjadi sasaran komunikasi.
Menurut model Berlo, sumber dan penerima pesan dipengaruhi oleh faktor-faktor: keterampilan komunikasi, sikap pengetahuan, sistem sosial, dan budaya. Pesan dikembangkan berdasarkan elemen, struktur, isi, perlakuan, dan kode. Salurannya berhubungan dengan panca indra: melihat, mendengar, menyentuh, membaui, dan merasai (mencicipi). Model ini lebih bersifat organisasional daripada mendeskripisikan proses karena tidak menjelaskan umpan balik.
http://1.bp.blogspot.com/-1svq68OODOk/T2b6CGMAxwI/AAAAAAAAABc/ukXxkTrYQ1E/s1600/Contoh+Skripsi+-+Proses+Komunikasi.png
FIGUR 4.16 Model Berlo

Salah satu kelebihan model Berlo adalah bahwa model ini tidak terbatas pada komunikasi publk atau komunikasi massa, namun juga komunikasi antarpribadi dan berbagai bentuk komunikasi tertulis. Model Berlo juga bersifat heuristik (merangsang penelitian), karena merinci unsur-unsur yang penting dalam proses komunikasi. Model ini misalnya dapat memandu Anda untuk meneli efek keterampilan komunikasi penerima atas penerimaan pesan yang Anda kirimkan kepadanya; atu Anda sebagai pembicara mungkin mulai menyadari bahwa latar-belakang sosial Anda mempengaruhi sikap pesan Anda.

Model DeFleur

Menggambarkan komunikasi massa ketimbang komunikasi antar pribadi. Modelnya merupakan perluasan dari model yang dikemukakan para ahli lain khususnya Shannon dan Weaver dengan memasukan perangkan media massa (mass medium service) dan peragkat umpan balik (feedback).
Model Melvin L. DeFleur menggambarkan model komunikasi massa ketimbang komunikasi antarpribadi. Diakui oleh DeFleur, modelnya merupakan perluasan dari model-model yang dikemukakan para ahli yang lain, khususnya Shannon dan Weaver.
Transmitter dan receiver dan model DeFleur, seperti juga Transmitter dan receiver dalam model Shannon dan Weaver, pararalel dengan Encoder dan Decoder dalam model Schramm. Fungsi receiver dalam model DeFleur adalah penerima informasi dan menyandi-baliknya-mengubah peristiwa fisik informasi menjadi pesan (sistem simbol yang signifikan). Dalam percakapan biasa, receiver ini merujuk kepada alat pendengaran manusia, yang menerima getaran udara dan mengubahnya menjadi impuls saraf, sehingga menjadi simbol verbal yang dapat dikenal. Dalam komunikasi tertulis, mekanisme visual mempunyai fungsi yang sejajar.
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/11.jpg?w=614
FIGUR 4.17 Model DeFleur

Menurut DeFleur komunikasi bukanlah pemindahan makna. Alaih-alih, komunikasi terjadi lewat operasi seperangkat komponen dalam suatu sistem teoritis, yang konsekuensinya adalah isomorfisme (isomorphism) di antara respons internal (makna) terhadap seperangkat simbol tertentu pada pihak pengirim dan penerima. Isomorfisme makna merujuk pada upaya membuat makna terkoordinasi antara pengirim dan khalayak.


Model Tubbs

Model komunikasi berikut dikembangkan oleh Stewart L. Tubbs.40 model ini menggambarkan komunikasi paling mendasar, yaitu komunikasi dua-orang (diadik). Model komunikasi Tubbs sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi, yang mengasumsikan kedua peserta komunikasi sebagai pengirim dan sekaligus juga penerima pesan. Ketika kita berbicara (mengirimkan pesan), sebenarnya kita juga mengamati perilakunya yang kita lihat tersebut. Prosesnya bersifat timbal balik atau saling mempengaruhi. Proses komunikasi juga berlangsung spontan dan serentak. Karena itu, kita melihat bahwa kedua peserta komunikasi disebut komunikator 1 dan komunikator. Penggunaan 1 atau 2 itu sebenarnya bersifat sebarang saja, tidak otomatis berarti bahwa komunikator 1 sebagai orang yang punya inisiatif pertama untuk mengirimkan pesan pertama kalinya dan komunikator 2 sebagai penerima pesan untuk pertama kalinya, meskipun untuk memudahkan pemahaman, kita dapat saja mengkonseptualisasikan komunikasi seperti itu.
Peran dalam model Tubbs dapat berupa pesan verbal, juga nonverbalm bisa disengaja ataupun tidak disengaja. Salurannya adalah alat indra, terutama pendengaran, penglihatan dan perabaan. Gangguan dalam model Tubbs terbagi dua, gangguan teknis dan gangguan semantik. Gangguan teknis adalah faktor yang menyebabkan si penerima merasakan perubahan dalam informasi atau rangsangan yang tiba, misalnya kegaduhan. Gangguan ini dapat juga berasal dari pengirim pesan, misalnya orang yang mengalami kesulitan berbicara atau yang berbicara terlalu pelan hingga nyaris tidak terdengar. Gangguan semantik adalah pemberian makna yang berbeda atas lambang yang disampaikan pengirim.
Ringkas kata, meskipun dalam model itu komunikator 1 dan komunikator 2 memilih unsur-unsur yang sama juga didefinisikan sam: masukkan, penyaringan, pesan, saluran, gangguan, unsur-unsur tersebut tetap berbeda dalam muatannya.

http://boru.simanjuntak.or.id/wp-content/uploads/2008/10/tubbs-model.jpg
FIGUR 4.18 Model Tubbs
Model Gudykunst dan Kim

 Model William B. Gudykunst dan Young Yun Kim 41 sebenarnya merupakan model komunikasi antarbudaya, yakni komunikasi antara orang-orang yang berasal dari budaya berlainan, atau komunikasi dengan orang asing (stranger). Model komunikasi ini pada dasarnya sesuai untuk komunikasi tatap muka, khususnya antara dua orang. Meskipun disebut model komunikasi antarbudaya atau model komunikasi dengan orang asing, model komunikasi tersebut dapat merepresentasikan komunikasi antara siapa saja, karena pada dasarnya tidak ada dua orang yang mempunyai budayam sosialbudaya dan psikobudaya yang persis sama.
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/12.jpg?w=614
FIGUR 4.19 Model Godykunst dan Kim     

Menurut Godykunst dan Kim, penyandian pesan dan penyandian-balik pesan merupakan proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konspetual yang dikategorikan menjadi faktor-faktor buday, sosiobudaya, psikobudaya dan faktor lingkunga. Lingkaran paling dalam, yang mengandung interaksi antara penyandian pesan paling dalam, yang mengandung interaksi antara penyandian pesan dan penyandian pesan balik pesan, dikelilingi tiga lingkaran lainnya yang merepresentasikan pengaruh budaya, sosiobudaya, dan psikobudaya.
Salah satu unsur yang melengkapi model Godykunst dan Kim adalah lingkungan. Lingkungan mempengaruhi kita dalam menyand dan menyandi balik pesan. Lokasi geografis, iklim, situasi arsitektual (lingkungan fisik). Dan persepsi kita atas lingkunga tersebut mempengaruhi cara kita menafsirkan rangsangan yang datang dan prediksi yang kita buat mengenai perilaku orang lain.

Model Interaksional

Model ini seyogianya tidak ada kaitan dengan “komunikasi sebagai interaksi”. Model interaksional berlawanan dengan model stimulus – respons (S – R) dan beberapa model linier lainnya yang kita bahas dalam bab ini. Sementara model-model tersebut mengasumsikan manusia sebagai pasif, model interaksional menganggap manusia jauh lebih aktif. Kualitas simbolik secara implisit terkandung dalam istilah “interaksional,” sehingga model interaksional jauh berbeda dengan interaksi biasa yang ditAndai dengan pertukaran stimulus – respons.
Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interkasi simbolik, dengan tokoh utamanya George Herbert Mead 42 yang salah seorang muridnya Herbert Blumer. Perspektif interaksi simbolik lebih di kenal dalam sosiologi, meskipun pengaruhnya juga menembus disiplin-disiplin lain seperti psikologi, ilmu komunikasi, dan antropologi.
Komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalu pengambilan peran orang lain (role-taking). Diri (self) berkembang lewat interaksi dengan orang lain, dimulai dengan lingkungan terdekatnya seperti keluarga
http://jurnalistiknuaink.files.wordpress.com/2011/09/13.jpg?w=614
FIGUR 4.20 Model Interaksional

(significant others) dal suatu tahap yang disebut tahap permainan (play stage)  dan terus berlanjut hingga ke lingkungan luas (generalized other) dalam suatu tahap yang disebut tahap pertandingan (game stage). Dalam interaksi itu, individu selal melihat dirinya melalui perspektif (peran) orang lain. Maka konsep diri pun tumbuh berdasarkan bagaimana orang lain memAndang diri individu tersebut.
Sebagaimana gajah, yang menerutu pribahasa, menampilkan realitas yang berlainan ketika diperiksa oleh enam orang buta, maka komunikasi pun dapat di kaji dari berbagai sudut pAndang. PAndangn dari suatu perspektif akan menampilkan dimensi-dimensi tertentu, sementara pengamatan dari sudut pAndang berbeda akan menyoroti aspek-aspek komunikasi yang berbeda pula. Anda sendiri dapat saja membuat model komunikasi khasi Anda berdasarkan model-model komunikasi yang telah dikembangkan para pakar terdahulu, bedasarkan perspektif Anda sendiri.

Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik dengan tokoh utamanya Herbert dan muridnya Blumer. Model interaksional sangat sulit digambarkan dengan diagramatik. Model verbal lebih disesuaikan dengan model ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar