Berita Terbaru Lihat Dibawah ini

Rabu, 26 Desember 2012

Komunikasi (untuk) Seni: Sebuah Prawacana


Pengantar
Gagasan ini terinspirasi dari wacana dan pemahaman yang berkembang tentang komunikasi baik dari segi teoretik keilmuan maupun pada tataran aplikasi praktis. Hampir semua orang, setiap hari melakukan komunikasi, dan beranggapan bahwa (melakukan) komunikasi itu gampang. Mengapa harus belajar komunikasi, bukankah sejak kecil kita telah diajari tentang cara berkomunikasi, berbahasa dan lain sebagainya? Komunikasi itu mudah dilakukan. Benarkah komunikasi itu mudah? Deddy Mulyana menjelaskan, hanya bila orang memasuki suatu pengalaman di mana proses komunikasi yang biasa ia lakukan rusak atau macet, ia baru menyadari bahwa komunikasi itu ternyata tidak mudah.[3]
Dalam konteks komunikasi politik, mengapa Presiden tidak menghadiri sidang paripurna interpelasi DPR mengenai kasus nuklir Iran? Dalam konteks komunikasi personal, berapa banyak pasangan selingkuh yang melakukan hubungan “illegal” hanya karena tidak dapat ‘berkomunikasi’ dengan pasangan resminya? Berapa banyak pasangan suami-isteri yang kawin-cerai hanya karena “beda prinsip” atau karena “tidak cinta lagi”? Dalam domain komunikasi sosial, berapa orang yang merasa (secara diam-diam atau terus terang) tidak cocok dengan model interaksi sosial kita, tidak cocok dengan gaya kepemimpinan kita, tidak sepaham dengan cara kerja kita? Dalam ranah akademik, berapa mahasiswa yang merasa tidak puas dengan gaya mengajar para dosennya, atau sebaliknya berapa dosen yang sering memberikan apresiasi positif dengan kemajuan belajar mahasiswanya?
Dalam konteks kesenian, baik teori maupun praktik, berapa jumlah karya yang sudah terkumpul di rak perpustakaan dan almari audio visual, dan berapa yang sudah berdaya guna secara optimal? Dalam konteks ke-ISI-an berapa jumlah mahasiswa dan atau dosen kita yang telah melahirkan masterpiece (mahakarya) seni sebagai monumen dan dokumen sejarah, baik untuk pribadi maupun untuk lembaga?[4]
Mohon dimaafkan kalau tulisan ini bernada mengkritik dan menggugat eksistensi kita di sini? Bukan itu maksudnya. Daftar pertanyaan yang begitu banyak dan panjang tersebut adalah berbagai contoh nyata, betapa kita sangat mengerti dan memahami bahwa komunikasi itu sangat mudah dibicarakan namun sangat sulit untuk dijalankan. Bukankah komunikasi akan berjalan secara efektif dan efisien jika telah terjadi kesepahaman antara penyampai pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan).
Komunikasi, sebagai mana dituturkan Deddy Mulyana, sebenarnya bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga seni bergaul. Agar kita dapat berkomunikasi efektif, kita dituntut tidak hanya memahami prosesnya, tapi juga mampu menerapkan pengetahuan kita secara kreatif (Kincaid dan Schramm, 1977:2). Komunikasi yang efektif adalah komunikasi dalam mana makna yang distimulasikan serupa atau sama dengan yang dimaksudkan komunikator –pendeknya, komunikasi efektif adalah makna bersama (Verdeber, 1978:7).[5]
Ranah komunikasi
Hampir semua disiplin ilmu sosial telah masuk dalam domain kesenian dan memberi andil cukup besar bagi kemajuan dan perkembangan karya dan kekaryaan seni. Psikologi seni, Sosiologi Seni, Politik Kesenian, Hukum (Hak Cipta dan Hak Kekayaan Intelektual), Antropologi Seni, Manajemen dan Ekonomi Seni, Industri dan Kewirausahaan Seni serta Komunikasi.[6]
Disiplin psikologi telah mencoba mengurai berbagai aspek dan sisi-sisi kejiwaan baik para kreator seni, pelaku seni dan penikmat seni dalam menghadapi sebentuk karya seni. Sosiologi telah melakukan pemetaan tentang aspek-aspek sosial hadirnya sebuah bentuk kesenian, mulai dari latar belakang, tujuan, struktur sosial dan ritual seni yang harus dijalankan serta bagaimana perkembangan setiap bentuk kesenian di masing-masing konteks sosialnya. Demikian halnya dengan antropologi yang mencoba memetakan kesenian dari segi (unsur) manusia dan kemanusiaan sebagai pembentuk karya seni tersebut. Dalam wacana manajemen seni dan kewirausahaan seni juga telah diupayakan agar seni dapat hidup dan menghidupi dirinya sendiri, serta agar seni dan kesenian memiliki nilai ekonomis yang tinggi –baik bagi karya itu sendiri maupun bagi para pelaku seninya.
Untuk yang terakhir, komunikasi, kita hanya mendapatkan konsep bahwa kesenian dan karya seni adalah proses komunikasi antara seniman dan audiens. Tetapi, bentuk komunikasi yang bagaimana? Model komunikasi yang seperti apa? Media komunikasi yang mana? Efek komunikasi yang seperti apa? Belum sepenuhnya disentuh oleh kesenian –atau sebaliknya, mengapa komunikasi belum mulai merambah objek kajiannya kepada seni dan kesenian (sebagai media komunikasi)? Di sinilah prawacana ini menemukan urgensinya.[7]
Gagasan ini menawarkan konsep sederhana, bagaimana sebaiknya komunikasi mengambil peran dalam mendukung pengembangan dan kemajuan kesenian, terutama seni pertunjukan?
Pengertian komunikasi. Jika ada seratus ahli komunikasi yang berkumpul jadi satu untuk memberikan pengertian tentang komunikasi, maka dapat dipastikan kita akan menemukan seratus jawaban yang berbeda pula. Hal ini, menurut Hafied Cangara[8] disebabkan karena banyaknya disiplin ilmu dan latar belakang tokoh yang telah memberi masukan terhadap perkembangan ilmu komunikasi, misalnya psikologi, antropologi, sosiologi, ilmu politik, manajemen, linguistik, matematika, elektronika dan lain sebagainya.
Harold D Lasswell menjelaskan bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya”. Sementara, Everett M Rogers mengungkapkan, komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Rogers berkolaborasi dengan Kincaid melahirkan konsep komunikasi dengan definisi lebih baru: “suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.[9]
Unsur Komunikasi. Hafied Cangara,[10] merangkum pendapat dari para ahli mengungkapkan bahwa unsur komunikasi terdiri dari Sumber-Pesan-Media-Penerima-Efek-Umpan Balik-Lingkungan. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Pesan (message, content, information) dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang ingin disampaikan pengirim kepada penerimanya. Media adalah alat (teknis) yang digunakan untuk memindahkan pesan dari sumber kepada penerima. Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Efek atau pengaruh adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan (pengetahuan, sikap, dan tindakan). Umpan balik adalah respon atau tanggapan kepada sumber pesan –baik dari media, penerima ataupun lingkungannya. Lingkungan atau situasi adalah factor-faktor tertentu yang mempengaruhi jalannya komunikasi (fisik, sosial budaya, psikologi, dan dimensi waktu).
Macam komunikasi manusia. Joseph A DeVito[11] dalam Communicology (1982) seperti dikutip Hafied Cangara, membagi komunikasi dalam empat macam, yakni (1) komunikasi antarpribadi, (2) komunikasi kelompok kecil, (3) komunikasi public, dan (4) komunikasi massa. Sementara dalam Human Communication (1980) tertulis ada lima macam tipe komunikasi yaitu (1) komunikasi antarpribadi, (2) komunikasi kelompok kecil, (3) komunikasi organisasi, (4) komunikasi massa, dan (5) komunikasi publik
Nurudin[12] sebagaimana halnya Cangara membagi komunikasi dalam empat tipe atau jenis yaitu (1) komunikasi dengan diri sendiri (intrapersonal communication), (2) komunikasi dengan orang lain (interpersonal communication), (3) komunikasi public (public communication) atau komunikasi kelompok kecil (small group communication) dan (4) komunikasi massa (mass communication).
Model komunikasi. Komunikasi adalah proses, klasiknya model komunikasi terbagi menjadi tiga yaitu (1) komunikasi satu arah, (2) komunikasi dua arah, dan (3) komunikasi banyak arah.
Dimensi komunikasi. Dalam perkembangannya, komunikasi ternyata menemukan banyak perspektif dan dimensi yang cukup luas, setidaknya (1) komunikasi adalah sebuah proses, (2) komunikasi sebagai symbol, (3) komunikasi sebagai sistem, dan (4) komunikasi sebagai multidimensi.[13]
Kajian multidisiplin.[14] Sebagai kajian multidisiplin, ilmu komunikasi mendapatkan dukungan banyak tokoh dari berbagai latar belakang ilmu, sebut saja misalnya John Dewey yang berlatar belakang filsafat dan psikologi, Charles Horton Cooley (sosiologi), Robert E Park (filsafat dan psikologi), George Herbert Mead (filsafat dan psikologi), Kurt Lewin (psikologi), Nobert Weiner (matematika), Harold D Lasswell (ilmu politik), Carl I Hovland (psikologi eksperimen), Paul E Lazarsfeld (matematika dan sosiologi), Claude E Shannon (elektronika), Wilbur Schramm (kesusastraan), dan Everett M Rogers (sosiologi pedesaan).
Manusia telah berkomunikasi selama puluhan ribu tahun. Sebagian besar waktu jaga manusia digunakan untuk berkomunikasi. Meskipun demikian, ketika manusia dilahirkan ia tidak dengan sendirinya dibekali dengan kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif. Kemampuan seperti itu bukan bawaan melainkan dipelajari. Seperti dikatakan Miller dan rekan-rekannya (1975:11), sedikit saja kita diajari oleh budaya kita bagaimana membina hubungan yang baik dengan sesama manusia sehingga kita dapat mewujudkan potensinya secara penuh (Deddy Mulyana, 2005:ix).
Harold D Lasswell menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab mengapa manusia perlu berkomunikasi: (1) hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya; (2) upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya; dan (3) upaya melakukan transformasi sosial (pewarisan sosial).[15]
Komunikasi yang efektif memberikan keuntungan dalam mencapai tujuan-tujuan pribadi dan pekerjaan. Tidak sulit untuk menemukan contoh-contoh bahwa kemampuan berkomunikasi berhubungan erat dengan keberhasilan karier dan bahkan keberhasilan material, seperti yang ditunjukkan oleh Tanri Abeng, Koes Hendratmo, Miing Bagito, KH Zainuddin MZ [16]–yang teraktual bisa kita sebut Oprah Winfrey, Tukul, Aa Gym, Butet Kertaredjasa.
Secara teoritik kajian terhadap perkembangan ilmu komunikasi telah masuk ke semua aspek kehidupan manusia. Antoni[17] membagi kajian komunikasi dalam teba yang cukup luas. Mulai dari para penggagas konsep dasar komunikasi (Claude Shannon, dkk), kajian media (John Dewey, dkk), Pandangan alternative kajian media (Marshall McLuhan, dkk), Pendekatan kritis kajian media (Ben Bagdikan, dkk), Cultural Studies (James W Carey, dkk), komunikasi pembangunan dan komunikasi internasional (Wilbur Schramm, dkk), komunikasi sosial budaya (William B Gudykunst), komunikasi antar personal (Charles Berger), komunikasi organisasi (Carl Weick, dkk), komunikasi pemasaran (David Ogilvy, dkk) sampai kajian komunikasi tanda [semiotika komunikasi] (George H Mead, dkk).
Dalam buku yang cukup lengkap merekam jejak sejarah perkembangan ilmu komunikasi tersebut, belum termaktub secara langsung bagaimana komunikasi melakukan kajian dan wacana terhadap seni dan kesenian –di Indonesia utamanya—baik secara tekstual maupun secara kontekstual. Padahal pada akhir buku tersebut diungkapkan, penting memahami budaya Indonesia sebagai salah satu pendekatan dalam menjelaskan fenomena komunikasi dalam perspektif ke-Indonesiaan.
Kajian komunikasi (untuk) sosial budaya mula-mula dirintis oleh Willliams B Gudykunst[18] yang mengembangkan teori Uncertainty Reduction Theory Charles Berger menjadi Anxiety-Uncertain Management Theory (AUM). Teori ini memfokuskan pada pertemuan antara budaya dalam kelompok dan orang asing. Ia membagi objek penelitian (para awak kapal dan keluarga angkatan laut Jepang dan Amerika) dalam high context speaker dan low context speaker. Dalam AUM, Gudykunst melihat adanya factor ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) dalam situasi komunikasi antar budaya. Dia menemukan bahwa seluruh budaya mencari cara untuk mengurangi ketidakpastian dalam tahap-tahap dari suatu relasi sosial, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang berbeda
Kajian komunikasi antarbudaya di Indonesia mulai dikembangkan oleh Deddy Mulyana, sejak dia menulis disertasinya yang berjudul Twenty-Five Indonesians in Melbourne: A Study of the Social Construction and Transformation of Ethnic Identity (Monash University, Australia, 1995) yang diterjemahkan secara bebas menjadi Mengindonesia di Australia: Perubahan dan Kesinambungan Identitas Etnik.[19]
Stewart L Tubbs dan Silvia Moss dalam Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi (buku kedua) memberikan kajian pada Komunikasi Antarbudaya pada bagian tersendiri.[20] Namun demikian, mereka hanya mengkaji tentang (1) Definisi budaya, (2) Sarana komunikasi antarbudaya, (3) Kendala terhadap komunikasi antarbudaya, (4) Kendala terhadap pemahaman antarbudaya, dan (5) Efek komunikasi antarbudaya.
Bila ada pengertian yang memadai atas budaya-budaya regional dan nasional, adalah mungkin untuk memelihara perbedaan-perbedaan individual dan membiarkan anggota-anggota berbagai subkelompok dan kelompok untuk hidup berdampingan dan berkembang. Gudykunst dan Kim[21] menyatakan bahwa “keanekaragaman budaya dan etnik adalah perlu bagi komunitas untuk eksis (1992: 255); mereka menyarankan tujuh prinsip untuk membangun komunitas, prinsip-prinsip bagi kita untuk bertanggung jawab: (1) milikilah komitment, (2) berhati-hatilah, (3) terimalah tanpa syarat, (4) pedulikan diri kita sendiri dan orang lain, (5) bersikaplah penuh pengertian, (6) bersikaplah etis, dan (7) bersikaplah damai.
Sebuah tantangan
Bagi saya, orang komunikasi yang masuk di rimba belantara seni, sejumlah perspektif bergumpal jadi satu dan akhirnya membuat kepala jadi pusing. Bagaimana tidak? Saya sangat awam dengan teori dan konsep yang dikembangkan dalam dunia kesenian, meskipun saya termasuk orang yang masih terkagum-kagum dengan output pendidikan tinggi seni. Luar biasa!!! Kembali saya teringat bahwa pondasi yang saya bangun adalah ilmu komunikasi, maka tantangan yang saya hadapi adalah bagaimana agar kompilasi pengetahuan yang saya bawa ini dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan dan peningkatan disiplin keilmuan seni? Dengan segala kerendahan hati dan keberanian yang dipaksakan, saya menawarkan diri untuk bisa diterima, ajur-ajer bersanding dengan kesenian –disamping terus bergulat dengan gigih untuk dapat membuat formulasi ilmu komunikasi yang applicable untuk disiplin seni.
Menarik garis demarkasi antara disiplin keilmuan dengan domain kesenian adalah sebuah kemunduran sejarah manusia. Memperdebatkan keduanya tanpa melihat celah kemungkinan mempersatukan adalah debat kusir primitive yang pada akhirnya membuat jarak untuk keduanya. Bagi saya seni adalah ilmu dan ilmu adalah seni yang saling melengkapi dan tidak mungkin untuk saling menggantikan. Menawarkan disiplin ilmu komunikasi (dengan segenap kompleksitas dan kekurangannya) sebagai salah satu pisau analisis untuk ikut membedah seni (yang tak kalah rumitnya), adalah lahan garap baru yang memungkinkan keduanya bersinergi untuk sama-sama maju dan berkembang.
Seni dalam arti seluas-luasnya adalah proses komunikasi, dan komunikasi dalam arti yang paling sempit sekalipun adalah sebuah seni. Bagaimana sebuah inspirasi hadir, ide karya digali dan dikembangkan, model dan bentuk diciptakan, karya diasah dengan berlatih, dipoles dan disempurnakan, kostum didesain, make-up dipilih, setting panggung digarap, iringan disinergikan dengan gerak dan tata cahaya, karya dipentaskan, penonton diundang, tepuk tangan applause penonton diasungkan, evaluasi dijalankan, kritik ditulis, berita peristiwa seni dibaca, dikomentari sampai pada kehadiran karya selanjutnya, adalah teba yang sangat mungkin dijangkau oleh ilmu komunikasi. Bagaimana tradisi dikonservasi, mahakarya direstorasi, bentuk-bentuk direkonstruksi, untuk selanjutnya dihidupkan kembali juga sangat memungkinkan ditarik ke dalam perspektif komunikasi.
Bukan sebuah apologi, jika gagasan ini masih sangat dangkal dan jauh dari tuntas. Justru karena keterbatasan saya dalam mengasungkan gagasan ini, menjadi sangat menarik jika ada kritik dan saran konstruktif untuk menyempurnakannya.
Beberapa tawaran. Berbagai ilmu dan ketrampilan komunikasi yang memungkinkan untuk masuk lebih dalam dalam domain kesenian dapat dipisahkan dalam dua mainstream yaitu (1) komunikasi sebagai disiplin keilmuan teoretis dan (2) komunikasi sebagai ketrampilan praktis.
Dari perspektif keilmuan, komunikasi menawarkan banyak pendekatan dalam menganalisis berbagai fenomena proses interaksi sosial individu dan masyarakat, salah satu yang sedang menjadi trendsetter dalam kajian komunikasi antarbudaya adalah pendekatan interaksionisme simbolik, sebagaimana yang digunakan Deddy Mulyana dalam menuliskan disertasinya. Hampir serupa adalah disertasi Dr Santosa S.Kar., M.Mus., M.A dalam menganalisis kelompok gamelan sebagai objek kajiannya.
Saya sedang mencoba merumuskan kait-kelindan-relasi (interaksi komunikasi) antara kesenian dan media massa dengan melakukan analisis sejumlah berita kesenian sepanjang tahun 2006 lalu. Penelitian dengan menggunakan pendekatan analisis isi (content analysis) ini diharapkan menemukan formulasi relasi ideal antara peristiwa/proses kesenian dengan proporsionalitas (kualitas dan kuantitas) pemberitaan/reportase/laporan. Harapan terakhirnya adalah adanya kemungkinan media (komunikasi) massa mampu menjadi jembatan sejarah yang valid dan reliable dalam melakukan proses dokumentasi kehidupan seni.
Penelitian yang mengangkat realitas tentang kesenian dengan menggunakan perspektif teori ilmu-ilmu sosial, terutama komunikasi, masih jarang –kalau tidak bisa dikatakan langka. Asumsi ini diperkuat dengan data dan fakta bahwa dari sekian banyak hasil penelitian di lingkungan ISI Surakarta, belum ada penelitian yang mengkhususkan diri pada kajian seni dan media massa.
Suratno, S.Kar., M.Mus dan kawan-kawan dalam tulisan berjudul Warseno Slenk, Kiatnya sebagai Dalang Laris, memaparkan bahwa media massa adalah salah satu alat promosi. Dalam penelitian itu dituliskan, Warseno Slenk menyadari bahwa media massa adalah alat yang ampuh untuk promosi dan publikasi dalam rangka merintis popularitas.[22]
Bambang Murtiyasa,[23] menuliskan setidaknya ada tujuh faktor yang mendukung popularitas dalang. Ketujuh faktor itu adalah: (1) Daerah dan frekuensi pentas; (2) Golongan penanggap; (3) Keperluan pentas; (4) Alasan pemilihan dalang, diantaranya, kemampuan dalang, angsar, pendukung, lembaga, gaya permainan dan status sosial; (5) penggemar dalang; (6) Sponsor dalang; dan (7) media massa sebagai sarana publikasi.
Dari 120 judul skripsi di STSI Surakarta sepanjang tahun 2000-2005, tidak satu pun meneliti dan menulis tentang relasi media massa dan kesenian. Fakta ini memperkuat dugaan, tidak adanya referensi yang layak dijadikan rujukan bagi mahasiswa dalam membuat penelitian tentang kesenian dan (komunikasi) media massa. Lebih jauh kita dapat berasumsi bahwa penelitian di kalangan pengajar juga demikian adanya, tidak ada yang mengaitkan kesenian dengan media massa.
Tentu saja ada kemungkinan dan alternatif lain dalam melihat peluang komunikasi berperan dalam membangun dan mengembangkan seni, terutama dari sisi “komunikasi adalah seni”. Dalam tataran praktis, komunikasi (dengan atau tanpa media massa) adalah salah satu faktor ketrampilan lain sebagai pendukung kompetensi seorang sarjana seni dan seniman sarjana. Ketrampilan berbicara di depan publik, ketrampilan melakukan presentasi, kemampuan mengatasi keberatan (handling objection), komunikasi pemasaran (marketing communication), teknik lobby dan negosiasi adalah beberapa contoh ketrampilan praktis yang sangat mungkin dikembangkan di lingkungan akademis berbasis kesenian. Sekali lagi, bukan untuk mendistorsi atau mengkooptasi kesenian dalam domain pasar global, alih-alih mampu membawa lokalitas dan tradisi sebuah kesenian dalam wacana global. Wallahua’lam bish-Shawab[]
REFERENSI BACAAN
Antoni. Riuhnya Persimpangan Itu, Profil dan Pemikiran Para Penggagas Kajian Ilmu Komunikasi, Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2004
Bambang Murtiyasa, Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang, Thesis S-2 Kajian Ilmu Humaniora UGM, 1995
Beilharz, Peter. Teori-Teori Sosial, Observasi Kritis terhadap Para Filsuf Terkemuka. Jogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
Booher, Diana, Speak with Confidence, Presentasi Luar Biasa yang Informatif, Inspirasional dan Penuh Daya Bujuk, Jakarta: Buana Ilmu Populer, 2004
Camus, Albert, dkk., Seni, Politik dan Pemberontakan, Jogyakarta: Bentang Budaya, 1998
Deddy Mulyana, Dr., MA., Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung: Remaja Rosdakarya, Cetakan Pertama, Oktober 2001
Fay, Brian. Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer. Jogyakarta: Jendela & Tadarus, 1998
H. Hafied Cangara, Prof. Dr., M.Sc., Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Rajawali Pers, Cetakan Keenam Januari, 2005
McQuail, Denis, Teori Komunikasi Massa (edisi kedua), Jakarta: Erlangga, Cetakan Keempat, 1996
Nurudin, Komunikasi Massa, Malang: Cespur, Cetakan I September 2003
Rustopo dan Bambang Murtiyoso (editor), Mencermati Seni Pertunjukan III, Perspektif Pendidikan, Ekonomi & Manajemen, dan Media, Surakarta: The Ford Foundation dan Program Pendidikan Pasca Sarjana STSI Surakarta, Cetakan Pertama, Maret, 2005
Suratno, S.Kar., M.Mus dkk, Warseno Slenk, Kiatnya sebagai Dalang Laris, hasil penelitian, 1997
Tubbs, Stewart L., Sylvia Moss, Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi (Buku Kedua), Bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan keempat, 2005
Y. Sumandiyo Hadi, Prof., Dr., Sosiologi Tari: Jogyakarta, Penerbit Pustaka, 2005.
[1] Makalah disampaikan dalam forum Diskusi Bulanan Jurusan Seni Tari ISI Surakarta, 22 Juni 2007
[2] Penulis adalah dosen Jurusan Seni Tari ISI Surakarta, pengampu (dan anggota tim) matakuliah Ilmu Komunikasi, Komunikasi Massa, Metodologi Penelitian I & II, Sosiologi Seni dan Pengetahuan Kebudayaan Nusantara. Sedang sungguh-sungguh untuk mencoba mempelajari seni, kesenian dan kebudayaan dari perspektif Ilmu Komunikasi (Massa)
[3] Deddy Mulyana, Dr, MA, Mengapa Kita Mempelajari Komunikasi?: Sebuah Pengantar, dalam Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss, Human Communication, Konteks-konteks Komunikasi (buku kedua). PT Remaja Rosdakarya Bandung, cetakan keempat, Oktober 2005, halaman vii.
[4] Pertanyaan ini cenderung retoris dan sangat naïf karena penulis secara sendiri dan sungguh-sungguh belum mencoba melakukan eksplorasi dokumentasi yang ada, hanya berdasarkan sejumlah asumsi dan dugaan-dugaan yang mungkin sangat debatable.
[5] Deddy Mulyana, Op. Cit, halaman viii.
[6] Asumsi ini berdasarkan pada muatan kurikulum yang disusun jurusan termasuk sebaran jenis dan nama matakuliah serta silabus (dan course content) yang ada. Tentu juga didasarkan pada tuntutan kompetensi lulusan mahasiswa Jurusan Seni Tari dan mahasiswa ISI Surakarta secara umum.
[7] Ide ini muncul berdasarkan pengalaman penulis mengampu matakuliah ilmu komunikasi dan ilmu komunikasi massa di Prodi Karawitan dan Pedalangan. Juga fakta yang menjelaskan bahwa di Jurusan Tari, ternyata tidak ada muatan materi ilmu komunikasi yang dikemas sebagai matakuliah tersendiri.
[8] H. Hafied Cangara, Prof, Dr, MSc, Pengantar Ilmu Komunikasi, Rajawali Pers, Jakarta, cetakan keenam Januari 2005, halaman 17.
[9] Hafied Cangara, ibid. halaman 18-19.
[10] Ibid., halaman 21-27.
[11] Hafied Cangara (rangkuman) Ibid., halaman 29-36
[12] Nurudin, Komunikasi Massa, Cespur, Malang, Cetakan I, Sept 2003, halaman 12-15
[13] Hafied Cangara, op. cit., halaman 49-54
[14] Hafied Cangara, ibid., halaman 61-80
[15] ibid., halaman 2-3
[16] Deddy Mulyana, loc. Cit., halaman xi
[17] Antoni, Riuhnya Persimpangan Itu: Profil dan Pemikiran Para Penggagas Kajian Ilmu Komunikasi, Tiga Serangkai, Solo, 2004, halaman 37-287
[18] Antoni, ibid., halaman 233-234
[19] Deddy Mulyana, Dr., MA. Mengindonesia di Australia: Perubahan dan Kesinambungan Identitas Etnik, lampiran 1 Buku Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosia lainnya, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Cetakan Pertama, Oktober 2001, halaman 229-253.
[20] Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss, Human Communication, Konteks-konteks Komunikasi (buku kedua). PT Remaja Rosdakarya Bandung, cetakan keempat, Oktober 2005, halaman 235-266
[21] Ibid., halaman 261-262
[22] Suratno, S.Kar., M.Mus dkk, Warseno Slenk, Kiatnya sebagai Dalang Laris,hasil penelitian, 1997halaman 54.
[23] Bambang Murtiyasa, Faktor-faktor Pendukung Popularitas Dalang, Thesis S-2 Kajian Ilmu Humaniora UGM, 1995, halaman 42-73

Tugas Makalah Ilmu Jurnalistik Tentang Sejarah Surat Kabar di Bandar Lampung


Sejarah Surat Kabar  Di Bandar Lampung






Febrian Maulana (NPM 12022034P/Ilmu Komunikasi/S3)



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbilalamin,
banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat.
Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Sejarah Surat Kabar Bandar Lampung”.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar.
 Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.












Bandar Lampung, Desember 2012 
Penyusun 
Febrian Maulana


Daftar Isi 

Abstrak                                                                                    ..............................1
Kata Pengantar                                                                        ..............................2
Daftar Isi                                                                                  ..............................3
Pendahuluan                                                                ..............................4
Landasan Teori                                                                        ..............................5
Pembahasan                                                                ..............................7   
Kesimpulan                                                                             ............................22
Penutup                                                                                   ............................24
Daftar Pustaka                                                              ............................25


































PENDAHULAN

Dewasa ini pers mengalami persaingan yang sangat ketat , karena itu industri pers dituntut untuk mengemas produk informasinya lebih baik lagi mengingat bisnis informasi sudah menjadi trend diawal millenium III. 
Dalam bidang informasi,menguasai pangsa pasar dan masuk dalam persaingan ketat antara perusahaanmenjadi bagian penting dan tidak bisa di elakan karena masyarakat penikmatinformasi menjadikan berita sebagai kebutuhan sehari-hari yang tidak bisadiabaikan keberadaannya.
Oleh karena itu, kehadiaran media informasi baik milik  pemerintah maupun swasta sangat menunjang pengadaan informasi dan itu sangat diperlukan.
 Informasi itu bisa melalui media cetak maupun elektronik.
Karena itu, saat ini bisnis surat kabar merupakan bisnis yang menggiurkan bagi pengusaha-pengusaha pers , selama masyarakat Indonesia masih terikat dalam media konvensional , namun hal ini perusahaan pers perlu manajemen yang baik untuk mencapai tujuan perusahaan dalam persaingan persurat kabaran dewasa ini.
Oleh karena itu proses pemasaran pun menjadi hal yang diperioritaskan dalam menetapkan strategi apa yang akan dilakukan. 
Penulis disini yang akanmenguraikan mengenai proses pemasaran pada surat kabar Harian Bandar Lampung .















Landasan Teori

Tujuan dan Manfaat

 1.1 Tujuan (PKL)

Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya paraktek kerja lapangan adalah melatihmahasiswa dalam mempersiapkan dan menunjang sumberdaya manusia agar dapatmemiliki pengetahuan, ketrampilan, inisiatif, kretif, dan bertanggung jawab serta produktif.

1.2 Manfaat (PKL)

Dengan adanya Praktek Kerja Lapangan (PKL), ilmu yang diperoleh dari perkuliahan dapat dirasakan manfaatnya dan dikembangkan dilapangan, danmahasiswa juga mendapatkan wawasan baik diperkuliahan maupun di perusahaan.

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Dalam laporan ini penulis membatasi ruang lingkup permasalahan pada proses pemasaran pada surat kabar karian Rakyat Lampung.

1.4 Metode Pengumpulan Data

 Dalam penyelesaian laporan ini penulis menggunakan beberapa metode demi untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan dalam pengmbilan data.
Metode tersebut yaitu:
1. Metode WawancaraPengambilan metode dilakukan dengan wawancara secara lisan dan berhadapanlangsung dengan pimpinan dan karyawan perusahaan
.2. Metode Pengamatan atau ObservasiPengumpulan data melalui melalui metode pengmatan langsung pada objek yangdituju sebagai sumber informasi yang tepat. Penulis melakukan pengamatan padasaat kegiatan yang sedang berlansung sehingga dapat memahaminya.
3. Metode Studi PustakaMetode ini ditempuh dengan mengumpulkan bahan-bahan dari berbagai bukudan keterangan lain seperti internet yang berhubungan dengan laporan ini.

1.5. Waktu dan Tempat (PKL)

Dalam melaksanakan praktek kerja lapangan (pkl) ini penulis melakukan risetdengan mendatangi obyek praktek kerja lapangan (pkl), kemudian mengamati dan menganalisa serta menuangkannya dalam sebuah laporan.
Penulis melaksanakan kerja di Surat Kabar Harian Bandar Lampung , secara khusus meriset tentang sirkulasi koran mulai tanggal 8 Oktober 2011 sampai dengan 8 Nopember 2011 dan dibimbing langsung oleh bapak Yono.

1.6. Sistematika Penulisan

Untuk meudahkan dalam penyusunan laporan kerja praktek ini penulismembagi dalam beberapa bab yaitu:

Bab I

Pendahuluan Pada bab ini terdiri dari latar belakang pembuatan laporan kerja praktek, maksuddan tujuan, mekanisme dan pelaksanaan kerja praktek, metologi penelitian dansistematika penulisan.

Bab II

Tinjauan Umum
menjelaskan tentang sejarah singkat agen koran tempat penulismelakukan kerja praktek di Surat Kabar Harian Bandar Lampung , tentang status Pemasaran di Surat Kabar Harian Rakyat Lampung dan tinjauan agen koran–koran

Bab III

Pembahasan Pada bab ini terdiri tentang apa saja yang dibahas sesuai judul laporan kerja praktek “Sistem Informasi Pemasaran pasar Surat Kabar Harian Bandar Lampung”yang sudah di jalankan penulis.

Bab IV Penutup

Berisi kesimpulan dari kerja praktek yang sudah dilakukan dan saran-saran menurut pandangan penulis.







Pembahasan

Sejarah Singkat Surat Kabar Harian di Bandar Lampung

1.Sejarah Koran Rakyat Lampung

Pendirian harian rakyat Lampung merupakan buah pemikiran Ardiansyah, S.H danJunaidi Djorhan,M.Pd, M.M. yang saat itu masing-masing sebagai GM dan pimpinan redaksi harian radar Lampung. 
Pemikirannya, diperlukan satu Koranharian lagi untuk memperkokoh posisi harian Radar Lampung yang saat itu sudahmenjadi market leader, maka diperlukan Koran kedua untuk mengkafer segmentasiyang mungkin ditinggalkan Rada Lampung seiring dengan naiknya great Radar Lampung.
Setelah melalui perencanaan yang matang, harian rakyat Lampung mulai terbit perdana 18 November 2002. Beberapa karyawan harian radar Lampung diikutsertakannya, yakni Adi Kurniawan, Adi Pranoto, Eko Jaya Saputra, Fuci Ica Rani,dan Wiyono. Kali pertama terbit 12 halaman yang terdiri 2 halaman warna dan 10halaman hitam putih. Berita yang disajikan, mengutamakan berita lokal, denganformat koran umum.
Seiring berkembang, format koran umum berganti menjadikoran kriminal.
Pertimbanganya, karena sebegitu besarnya pembaca dikalangan ini,dan kala itu dimanfaatkan koran-koran kriminal yang terbit dari Jakarta.
Oplah puntumbuh cepat.
Hanya saja kurang mampu memberi pemasukan iklan, dan banyak kritik bahwa koran ini menjauhi fungsinya yang edukatif.
Walau format kriminal sempat dipertahankan cukup lama seiring mengarahkan pembaca setianya ke arah fungsi edukatif, lambat laun koran ini menjadi format
umum yang elegan. 
Tentu dengan terus melakukan perubahan-perubahan di sanasini, sehingga mampu bersaing dengan cara sehat dengan Koran-koran yang sudahlebih dahulu terbit di Lampung dan Koran terbitan Jakarta yang mau kelampung.Berkat ketentuan, dan kerja keras segenap karyawannya, Harian rakyat Lampung yang tergabung dengan Jawa Pos Group telah hadir di Provinsi Lapung denganoplah rata-rata 35.000 eks/hari dengan distribusi meliputi seluruh kotamadya dankabupaten yang ada di Provinsi Lampung, mencangkup semua segmen yang adaterbit 16 halaman dengan 4 halaman yang warna.
 Padahal saat pertama diterbitkan,harian rakyat Lampung hanyak memiliki oplah sebanyak 5.000 eks/hari.
Hal inilahyang menjadi bukti bahwa Koran Rakyat Lampung cukup diminati MasyarakatLampung. 
Harian Rakyat Lampung sendiri hadir dengan isi pemberitaan yangmemuat bidang politik, pendidikan, hokum, ekonomi, dan gaya hidup. Seiring perkembangan yang semakin baik, setelah sempat berkantor di Graha Pena Radar Lampung, dan menyewa Ruko di Jl Teuku Umar No. 16C Kedaton BandaLampung, kini Harian Rakyat Lampung telah memiliki Kantor Sendiri di Jl Ki Maja No. 69 Way Halim Kedaton Bandar Lampung.Pada tahun 2007, Harian Rakyat Lampung dipercaya sebagai Koran tempat pengumuman lelang barang dan jasa Provinsi Lampung. Dengan terpilihnya sebagisatu-satunya media tempat pengumuman lelang barang dan jasa itu, menjadikanrakyat Lampung referensi bacaan dunia usaha dan pemerintah kota maupun daerahdi provinsi Lampung Upaya peningkatan kualitas dalam segala aspek terus dilakukan. Termasuk salahsatunya memperkenalkan rakyat lampung kepada masyarakat luas dengan program- program unggulan yang kami laksanakan, antara lain pemiihan guru favorit, pemiihan toko favorit. Dibidang social, Harian Rakyat Lampung berupaya lebihdekat pembaca dengan melaukan program rutin Pasar Murah.
Semua itu, dilakukanHarian Rakyat Lampung sebagai bentik penghargaan segaligus ungkapan trimakasihuntuk masyarakat luas atas keprcayaan yang telah diberikan dan berharapkeprcayaan ini akan terus di jaga dengan baik.Ada pun kerja sama yang dibina Harian Rakyat Lampung, antara lain sebagai berikut:
1.Media/Koran resmi pemuatan info lelang yang ada di provinsi Lampung yangtertuang dalam SK Gubernur Lampung No.481.1/3600/05/2006.
2.Pengumuman CPNSD yang dilakukan setiap tahun oleh BKD ProvinsiLampung.
3.Pengumuman Dana BOS yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan ProvinsiLampung.
4.Kerja sama dibidang publikasi dan pemasangan iklan yang dilakukan PemdaProvinsi Lampung.
5.Publikasi/iklan dengan Pemda Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung. 6.Publikasi/iklan dengan DPR Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung.
7.Publikasi/iklan dengan BUMD, BUMN dan perusahaan lainnya seprti PLN,PTPN VII (Persero), PT. Telkom, Perbankan, PDAM, Operator-operatoseluler seperti Telkomsel, Indosat, XL, Ceria, FIF, dan perguruan tinggi negrimaupun swasta.(Pendistribusian)

2.Sejarah Koran Lampung

Koran Lampung yang terbit perdana Pada Senin, 15 Desember 2008. menambah gegap gempita dunia Pers. Acara peluncuran Koran Lampung edisi perdana cukup meriah. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat. Hadir dalam kesempatan ini adalah jajaran walikota, jajaran Korem Lampung dan beberapa tamu dari berbagai kalangan dan instansi.
Koran Lampung hadir untuk menjawab tantangan zaman yang membutuhkan keterbukaan informasi, akurat, tajam, aktual dan terpercaya. Media ini dapat menjadi stimulus dalam rangka percepatan pembangunan.
Keterbukaan informasi dari penyelenggara negara, merupakan salah satu menu dalam Koran Ini. Informasi-informasi seputar pembangunan disajikan dengan lugas dan tajam.
Koran Lampung didistribusikan ke-10 Kabupaten/Kota yang berada di Lampung. Kabupaten Lampung Barat, yang merupakan kabupaten terjauh dari provinsi Lampung tak luput dari incaran pemasaran koran Lampung.
Untuk menjawab tantangan informasi melalui dunia maya, koran lampung juga menyediakan informasi edisi On-line. Edisi on-line berisi rangkuman berita yang terbit pada hari tersebut. Pada edisi on-line masyarakat dapat memberikan masukan, komentar, kritik, ataupun saran melalui fasilitas hubungi kami.
Dalam pembuatan web ini saya (Supriyanto) dipercaya untuk melakukan rancang bangun web koran lampung ini.

3.Sejarah Lampung Post
 Harian Lampung Post meraih penghargaan sebagai koran terpopuler di Provinsi Lampung dari Rakata Institute. Pemimpin Redaksi Sabam Sinaga beserta awak redaksi menunjukkan trofi tersebut, Minggu (8-8). (LAMPUNG POST/IKHSAN)

Surat kabar yang tergabung dalam Media Group (Media Indonesia dan Metro TV) ini dibaca oleh 400 ribu orang setiap hari. Hasil survei yang melibatkan 2.400 responden itu dipaparkan di Hotel Nusantara, Bandar Lampung, Minggu (8-8).

Dua koran lokal lainnya, Radar Lampung (grup Jawa Pos) dan Tribun Lampung (grup Kompas Gramedia) berada di urutan kedua dan ketiga. Sedangkan untuk media elektronik, Lampung TV yang terpopuler.

Sebelumnya, Sabtu (7-8), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung juga menganugerahkan Saidatul Fitriah Award 2010 kepada wartawan Lampung Post, Agus Susanto. "Dua penghargaan ini kado ulang tahun terindah bagi Lampung Post yang genap berusia 36 tanggal 10 Agustus, besok," kata Pemimpin Redaksi Sabam Sinaga tadi malam.

Menurut Sekretaris Eksekutif Rakata Institute, Andri Satriawan, survei itu dilakukan periode Juni
Juli 2010. Survei diadakan di lima kabupaten dan satu kota, yakni Kota Bandar Lampung, Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Pesawaran. "Survei pada setiap wilayah memiliki tingkat kepercayaan 95% dengan tingkat kesalahan diperkirakan sekitar 5%," kata Andri didampingi Dewan Penasihat Eko Kuswanto.

Menurut dia, Lampung Post mendapatkan presentasi peminat terbesar dengan nilai 7,60%. Urutan kedua Radar Lampung (7,37%), sedangkan harian pendatang baru Tribun Lampung (6,73%). "Beberapa koran lain tidak terlalu signifikan dipilih masyarakat, hal ini kemungkinan karena distribusi dan penyebarannya,
kata Andri.

Eko Kuswanto juga mengatakan hasil survei tersebut diketahui peranan konsumen dalam memilih Lampung Post lebih menitikberatkan kualitas berita. Dari data itu, responden memilih kualitas berita 56%, kemudahan memperoleh 17%, dan bermerek atau terkenal 12%.

Masalah harga menempati urutan keempat (9%) dan tampilan menarik (6%). "Rakata itu dibesarkan media. Kami melakukan survei untuk juga mengubah anggapan selama ini menyebut Rakata hanya survei politik. Kami juga melakukan riset-riset bisnis lain."
Eko Kuswanto menambahkan survei terhadap media itu dilakukan karena rasa ingin tahu potret media lokal di Lampung. Masyarakat membutuhkan bacaan dan tontonan informasi yang aktual, tepercaya, dan terdidik untuk pembacanya.

Rakata Institute adalah lembaga survei independen yang dikelola orang-orang profesional di bidangnya. Hasil penghitungan cepat (quick count) Rakata dalam Pilkada Lampung memiliki presisi tinggi. Lembaga ini lebih banyak bergerak di bidang politik serta menjadi rujukan dan sumber kajian akademik. Selain politik, belakangan Rakata juga terjun menyurvei media massa.
4.Sejarah Lampung Ekspres
Era 90 an, media di Lampung belum begitu banyak seperti hari ini. Baru 2 media massa yang eksis kala itu. Tamtama dan Harian Lampung Post. Meminjam istilah dunia sepakbola, pemain media pada saaat itu tidak begitu banyak. Dari catatan saya, Solfian Achmad, JA Koesri (alm), Matjik Yatim, Martubi Makki (alm), Mas Edy Sutrisno, Nuril Hakim YHS dan Harun Muda Indra Jaya (HMI) yang secara intens bercengkrama dalam dunia ini.

Terkait dengan hari jadi LE, mungkin saya akan banyak menyinggung keberadaan SKM Tamtama. Karena sejarah, menjadi perekat dalam harmonisasi penulisan ini.  Di motori HMI, Syahrudin Syaropi (alm), Mattji Yatim dan Nuril Hakim, Tamtama eksis. Bayangkan, selain Lampung, pasar Tamtama juga masuk sedikit kawasan di Jawa Barat termasuk Banten.

Kalau mau jujur, Lampung dengan Tamtama nya, menorehkan sejarah kemajuan Pers Banten. HMI, Nuril, Ferry Heri Ch Burmelli dan termasuk saya –narsis he he he- pernah memberikan sedikit ilmu di negeri Atut dan Rano Karno. Dengan itikad selain pengembangan usaha, semangat ingin cawe-cawe mengembangkan dunia pers di Banten. Dan Alhamdulillah, meski Banten Ekspres mati suri, Banten Ekspres menjadi kawahcandra di muka nya pers Banten. Terbukti banyak nama-nama beken kini menduduki tempat-tempat strategis di media terbitan Banten alumni Banten Ekspres.

Di bawah kendali HMI, yunda Megawani, Matjik Yatim, Tamtama terus berjalan menuju dunia baru dengan label Lampung Ekspres.


Perjalanan LE 

Era Lampung Ekspres tidak terlepas dari peran PWI Lampung. Dimana agenda PWI Lampung mempertemukan HMI dan Raja Media Indonesia, Dahlan Iskan, yang sekarang Meneg BUMN-Jawa Post Group.  Terjadilah merger antara LE dan Jawa Post dan berkantor di Jl. Sultan Agung. Saya adalah siswa pertama Lampung yang belajar dan menempa ilmu di Surabaya (Jawa Post), Jakarta (Merdeka) dan Palembang (Sumatera Ekspres). Perkawinan singkat terjadi. Baru sekitar dua tahun, perceraian tak dapat dielakkan.

Akibat perceraian itu, LE berkantor di Jl Diponegoro. LE kembali mandiri. Nama-nama seperti Fajrun Najah Achmad (sekarang sekretaris Partai Demokrat), Supriyadi Alfian (sekarang Ketua PWI Lampung) dan banyak wartawan-wartawan senior lain berkiprah.

Tantangan dan tuntutan masing-masing personal LE pun terus diwarnai dinamika tajam. Fajrun Najah Achmad mendirikan Mingguan Fokus. Saya dan Yulizar Kundo mendirikan Bandarlampung News bersama Kanda Yusuf Yazid di depan SMA Utama Jl Jend Sudirman.

Kata informasi berasal dari kata Perancis kuno informacion (tahun 1387) yangdiambil dari bahasa Latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”.Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam“pengetahuan yang dikomunikasikan”Informasi merupakan fungsi penting untuk membantu mengurangi rasa cemasseseorang. Menurut Notoatmodjo (2008) bahwa semakin banyak informasi dapatmemengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuanmenimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.Informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order  sekuensdarisimbol,atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan ataukumpulan pesan
. Informasi dapat direkam atau ditransmisikan. Hal ini dapat dicatatsebagai tanda-tanda, atau sebagaisinyalberdasarkangelombang.Informasi adalah jenis acara yang mempengaruhi suatu negara darisistem dinamis. Para konsepmemiliki banyak arti lain dalam konteks yang berbeda.
[1]
Informasi bisa di kattakansebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi
[2]
Namun demikian, istilah ini memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya,
2.2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi dan susunan organisasi personalia Surat Kabar Harian RakyatLampung:

DewanRedaksi Copy editor 

Copy editor
 Dewan Redaksi WakilPimpinanPerusahaan RedakturPelaksana Personalia/umum Keuangan
 Pemasaran Iklan Redaktur Staff Redaksi Pra cetak  CopyeditorPimpinanRedaksi/Perusahaan


2.2 Visi Dan Misi2.2.1 Visi

Menjadi Koran harian yang terpercaya diprovinsi lampung.

2.2.2 Misi

1. Menyajikan berita-berita yang aktual, orisinil dan terpercaya.2. Memberikan informasiyang berimbang kepada masyarakat pembaca.3. Menghadirkan informasi yang inspirative dan konstruktive.



2.3. Jenis Usaha dan Kegiatan

 Rakyat Lampung merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang persuratkabaran. Selain itu Rakyat Lampung juga menyediakan jasa periklanan bagimasyarakat perorangan maupun instansi/perusahaan




2.4. Menajemen Organisasi1. Pimpinan Redaksi

Bertanggung jawab untuk memimpin semua pegawai untuk mencapai tujuan perusahaan.

2. Wakil Pemimpin Perusahaan
Bertugas dalam membantu pimpinan dalam melaksanakan tugasnya.

3. Dewan Redaksi
Bertugas memberi pertimbangan kepada bagian redaksibaik diminta maupun tanpadiminta.

4. Redaktur Pelaksana
Bertugas mengkoordinir perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi tugas-tugakerekdasian dan bertanggung
jawab kepada pimpinan redaksi.

5. Asisten Redaktur Pelaksana
Bertugas bersama-sama redaktur pelaksana atau tanpa redaktur pelaksana ketikaredaktur pelaksana berhalangan

6. Redaktur
Bertugas bersama-sama redaktur pelaksana atau tanpa redaktur pelaksana ketikaredaktur pelaksana berhalangan dan bertanggung jawab kepada pimpinan.

7. Staff redaksi
Bertugas untuk membantu redaktur serta masalah mengenai administrasikeredaksian.

8. Pra cetak 
Mengatur tata letak gambar dan tulisan.

9. kopi editor
Bertugas untuk mengoreksi dan memperbaiki tulisan dan ejaan yang benar sesuaidengan EYD.

10. Personalia/umum
Bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana yang ada di perusahaan dan yangdibutuhkan oleh seluruh karyawan yang menunjang tugas dan tanggung jawabterhadap perusahaan.

11. Keuangan
Mengurusin masalah yang bersifat finansial seperti mengatur uang masuk dankeluar.

12. Pemasaran
Bertanggung jawab atas pendistribusian surat kabar kepada konsumen melalui paraagen yang tersebar. Namun perusahaan hanya bertanggung jawab terhadap agen pertama.

 Iklan
Memiliki tugas untuk menerima pemasangan iklan dan menawarkan materi iklanyang akan dipasang kepada perseorangan maupun instasi/peusahaan dengan caraface to face maupun via telepon, serta menangani kontrak iklan yang akan di muat.

Kegiatan Pengolahan Data

Pengolahan data pemasaran pada surat kabar harian rakyat Lampung dilakukansetiap hari kecuali hari minggu dengan cara mengecek data pemasaran yang masuk setiap hari.
 Adapun proses pemasaran pada surat kabar harian rakyat lampungsebagai berikut:
Proses pemasaran dimulai dari proyeksi semua redaktur pada malam hari,kemudiana peliputan berita pada siang harinya oleh wartawan. Berita yang telah
diperoleh kemudian diketik dan dimulai pengeditan oleh editor. Setelah memasukitahap pengeditan kemudian pengecekan oleh
copy editor,
hal tersebut dimaksudkanuntuk mengoreksi salah kata, ejaan, kurang huruf
dan secara umum berhubungan erat dengan konsep sepertiarti,  pengetahuan,negentropy,Persepsi,Stimulus,komunikasi,kebenaran, representasi, danrangsangan mental.Dalam beberapa hal pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa tertentu atau situasiyang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulanintelejen, ataupun didapatkan dari berita juga dinamakan informasi. Informasi yang berupa koleksi data dan fakta seringkali dinamakan informasi statistik.
 Dalam bidang ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses, atauditransmisikan. Penelitian ini memfokuskan pada definisi informasi sebagai pengetahuan yang didapatkan dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi danalirannya.Informasi adalahdatayang telah diberi makna melalui konteks.
Sebagai contoh,dokumen berbentuk spreadsheet (semisal dari Microsoft Excel) seringkalidigunakan untuk membuat informasi dari data yang ada di dalamnya. Laporan labarugi dan neraca merupakan bentuk informasi, sementara angka-angka di dalamnyamerupakan data yang telah diberi konteks sehingga menjadi punya makna danmanfaat.
 Pengertian Sistem Informasi
I. Konsep Dasar A. Konsep Dasar sistem
Suatu sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang erat hubungannya satudengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.Secara sederhana, suatu sitem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atauhimpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berintraksi,saling tergantung satu sama lain,dan terpadu.Dari defenisi ini dapat dirinci lebih lanjut pengertian sistem secara umum yaitu :
1. Setiap sistem terdiri dari unsurunsur
 2. Unsurunsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan.
3. Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.
4. Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.
B. Konsep Dasar InformasiSecara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan datadalam suatu bentuk yang lebih bermguna dan lebih berarti bagi penerimanya yangmenggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk  pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan ataudiolah atau diinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
C. KONSEP DASAR SISTEM INFORMASISitem Informasi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukankebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi oprasi organisasi
yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategis dari suatu organisasi untuk dapatmenyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan untuk  pengambilan keputusan.II. Komponen Dan Elemen Sistem Informasia. 
Komponen Sistem Informasisistem informasi terdiri dari komponen-komponen yang disebut blok bangunan(building blok), yang terdiri dari komponen input, komponen model, komponenouput, komponen teknologi, komponen hardware, komponen software, komponen basis data, dan komponen kontrol. Semua komponen tersebut saling berinteraksisatu dengan yang lainnya membentuk suatu kesatuan untuk mencapai sasaran.1. Komponen inputInput mewakili data yang masuk kedalam sitem informasi. Input disini termasuk metode dan media untuk menangkap data yang akan dimasukan, yang dapat berupadokomun-dokumen dasar.2. Komponen modelKomponen ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan model matematik yangakan memanipulasi data input dan data yang tersimpan di basis data dengan carayang sudah ditentukan untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan.3. Komponen output

.Materi yang telah siap kemudian diatur tata letaknya oleh bagian pra cetak yangmendesain Koran agar tampiklannya menarik dan mudak dipahami oleh pembaca.Selanjutnya dicetak dalam bentuk astralon utuk diperbanyak atau dicetak.Pencetakan itu sendiri di lakukan di PT Lampung Intermedia.Adapun cara-cara yang dilakukan dalam pemasaran Koran yaitu:
1. Melalui agen
2. Melalui display
3. Melalui ekspedisi seperti SPG, promosi pameran di daerah maupun dalam kotaSystem pengambilan Koran dari agen:
1.
Cash discount 
Yaitu bayar dimuka sebesar 8% tepat pada waktunya pembayaran sebesar 6%
2. KonsinyasiYaitu bila Koran yang ada di agen tidak laku dapat dilakukan retur dan dihargaiseharga koaran yang laku
3. Inkaso/jatah putus

Yaitu mengambil sejumlah Koran dengan mendapatkan discount 8%.
4. Gratis/perkenalanDiberikan kepada agen baru.
5. Dengan promosi iklan baris gratisDengan adanya promosi iklan baris tersebut di maksudkan agar si pemasangiklan mau berlangganan Koran atau dengan kata lain yaitu barter 

Masyarakat Lampung harus bangga memiliki koran lokal se-eksis Harian LAMPUNG EKSPRES-plus yang notabenenya milik penduduk asli Lampung Buya Harun Muda Indrajaya. Meskipun saat ini banyak koran-koran harian yang dimiliki grup-grup raksasa, namun tidak membuat keberadaan LE jadi surut.

Bahkan harian yang kini bermarkas di Jl Urip Sumoharjo-Sukarame Bandarlampung ini, telah lama memiliki percetakan sendiri. Yang awalnya mencetak koran di percetakan lain, bahkan justru banyak harian lokal yang mencetak koran mereka di percetakan LE.

Di usianya yang ke-44 tahun tepatnya 4 Oktober 2012 ini, LE bahkan telah mengembangkan sayap mendirikan anak perusahaan Harian Ekspres. Peluncuran anak perusahaan Harian Ekspres pada 8 Juli 2012 lalu, sekaligus perayaan ulang tahun yang pertama koran yang tergabung dalam LE-Grup.

Ini sebuah pencapaian yang luar biasa, karena bisa bertahan dari tahun ke tahun dengan segala persoalan internal dan eksternal yang menghadang. Umur 44 tahun dihitung sejak diterbitkannya pertama kali Mingguan Tamtama.

Saya juga merupakan alumni yang pernah tergabung sebagai keluarga besar LE pada tahun 1996, yang pada saat itu berkantor di Jl Pattimura Telukbetung dan masih sebagai Koran Tamtama terbit mingguan, dimana saat itu mendapat tawaran dari Jawa Post Group.

Dengan kegigihan dan semangat Buya HMI, pemilik sekaligus pengelola Harian LE, berjuang untuk terus memajukan LE menjadi salah satu harian lokal yang terbit di Lampung.

Pada tahun 1997, Koran Tamtama meluncurkan edisi perdananya sebagai salah satu koran harian yang terbit di Lampung, dengan nama Harian Tamtama. Pada saat itu, untuk menerbitkan sebuah Koran harus memiliki Surat izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang sulit dan mahal mendapatkannya dan sewaktu-waktu bisa terancam diberangus (breidel) dengan cara mencabut SIUPP-nya, serta jabatan Pemimpin Redaksi pun langsung ditetapkan oleh Departemen Penerangan di Jakarta, hanya dua-tiga suratkabar yang ada di Provinsi Lampung, termasuk Mingguan Tamtama.

Dari sekian banyak koran harian yang kini terbit di daerah Lampung. Tidaklah mudah menerbitkan sebuah media cetak yang bisa bertahan lama. Untuk bisa bertahan menghidupkan media tidak hanya diperlukan uang belaka. Namun seorang yang punya idelisme untuk bisa bertahan menghadirkan media cetak secara terus menerus. Dan ini hanya ada didiri Buya Harun, selaku guru, sahabat sekaligus orangtua yang selalu membimbing saya.

Koran harian Tamtama tidak lama terbitnya karena harus berganti nama Harian LE yang bekerja sama dengan Jawa Post Group pimpinan Dahlan Iskan.
Dalam perjalannya kerjasama yang dijalankan dengan Jawa Pos Group tidak bergitu mulus dan harus berakhir tidak lebih lima tahun, dimana saat itu saya menjadi Redaktur Pelaksana bersama Priyo Susilo selaku GM utusan Jawa Pos. Karena Buya Harun tidak ingin seluruh saham kepemilikan LE dikuasasi Jawa Post Group.

Berpisahnya LE dengan Jawa Post berlangsung secara baik, kedua belah pihak berbagi saham, dimana percetakan dan kantor diambil alih Jawa Post, sementara nama LE dan sumber daya manusia tetap berada di induk LE.

Disini kegigihan Buya Harun harus diuji lagi, bagaimana harus mencari kantor baru dan mesin cetak untuk berkantor para karyawan LE.
Yang tadinya berkantor di Jl Sultan Agung (kini menjadi kantor Radar Lampung) harus berpindah dengan menyewa salah satu gedung yang berada di Jl Diponegoro Telukbetung.

Dalam perjalannya, memasuki tahun 2000, LE mulai bangkit. Dengan tim redaksi yang solid, berita-berita yang disuguhkan sangat ditunggu oleh masyarakat Lampung. Apalagi, Buya Harun selaku Pimpinan Redaksi saat itu selalu ikut memantau berita-berita yang akan diterbitkan.

Kisah pahit pindah kantor hingga mempunyai kantor sendiri di Jl Urip Sumohardjo sekarang ini, ini merupakan kisah menarik yang bisa diteladani terutama kegigihan Buya Harun dalam memperjuangkan keberadaan koran harian yang menjadi kebanggaan masyarakat Lampung.

Ini hanya segelintir cerita tentang LE, dan masih banyak lagi cerita-cerita dibalik kesetiaan para karyawan.
Dan kini mungkin sudah tercatat lebih seratus wartawan alumni LE sudah berkiprah di media lain. Bahkan sudah banyak mantan karyawan LE yang mengelola koran-koran harian di Lampung sendiri. Artinya ketokohan Buya dalam mendidik wartawan patut diacungkan jempol, karena banyak alumni LE sudah sukses.

Buya Harun juga dalam kondisi kesehatannya belum pulih, tetap eksis dalam menulis setiap harinya dengan Numpang Liyu. Dimana wartawan-wartawan senior di Lampung saya hanya mencatat dua nama yang tetap eksis, selain Bapak Bambang Eka Wijaya dengan “Buras”, satunya adalah Buya Harun Muda Indrajaya dengan “Numpang Liyu”. Ini patut diteladani wartawan-wartawan muda menjadi kader generasi berikutnya.

Kedepan, saya berharap LE jangan terlena, dan terus meningkatkan kualitas, baik dari segi isi, penampilan, kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kualitas manajemen. Karena media cetak saat ini, dihadapkan dengan perkembangan media elektronik dan media maya, terutama terpaan dari ‘grup raksasa’ yang terus mengancam.
 


Tantangan dan Hambatan

Sewaktu masih berupa Mingguan Tamtama dan berkantor di Telukbetung, koran itu benar-benar ‘koran perjuangan.’ Mesin cetak belum ada dan karenanya kudu numpang cetak di percetakan orang.
Pekerjaan pracetak dilakukan serbamanual karena saat itu dunia belum memasuki zaman komputer, biaya cetak mesti dicari dulu, wartawannya gonta-ganti, bahkan kantor pun masih nebeng. Pendek kata, jika memang bukan “darah wartawan” yang mengalir deras di tubuh Bang Harun, niscaya sudah tamatlah itu koran.

Tapi, sejarah berbicara lain. Dari Tamtama yang mingguan, eh malah naik kelas ke LE yang harian.
Mesin cetak pun sudah nangkring di kantor yang tak nebeng lagi di Jalan Urip Sumoharjo, Bandarlampung.
Tentu ini sebuah pencapaian yang pantas diapresiasi, yang menariknya diusahakan sendiri oleh Bang Harun, tanpa bekerjasama atau suntikan modal dari pihak lain.

Sementara itu, Bang Harun sendiri di dalam karier kewartawanan beliau sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Lampung. Saat itu, PWI adalah wadah tunggal wartawan, dan karena itu upaya untuk memenangi persaingan menuju kursi nomor satu di organisasi itu mestilah lebih sulit. Berbeda halnya dengan kondisi sekarang manakala organisasi wartawan tumbuh subur bak jamur di musim hujan.

Sebagai orang yang pernah aktif di Mingguan Tamtama, oleh Bang Harun saya dipercaya untuk mengasuh rubrik seni ‘Cakrawala’ dan kemudian dipromosikan menjadi Redaktur Pelaksana.
Rubrik seni yang saya asuh, kata orang, cukup berwibawa dan sempat diapresiasi dalam tulisan Paus Sastra Indonesia Hans Bague Jassin di majalah sastra Horison.

Namun, tentu saja segala pencapaian itu mesti dijaga dengan baik, karena perjalanan ke depan taklah sunyi dari tantangan. Menilik sejarahnya, pada masa Orde Baru pra-1998, yang menuntut sebuah koran mesti memiliki Surat izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang sulit dan mahal buat mendapatkannya dan sewaktu-waktu bisa terancam diberangus (breidel) dengan cara mencabut SIUPP-nya, serta jabatan Pemimpin Redaksi pun langsung ditetapkan oleh Departemen Penerangan di Jakarta, hanya dua-tiga suratkabar yang ada di Provinsi Lampung, termasuk Mingguan Tamtama, yang semula korannya polisi. Tantangan masa itu kiranya lebih berwajah politis, meskipun kendala finansial juga dialami oleh Tamtama.

Kini, pasca-1998 ketika kebebasan pers mengalami musim seminya, dengan mudah orang bisa menerbitkan koran karena tak diperlukan izin, bahkan Departemen Penerangan sendiri dibubarkan oleh Presiden Abdurrachman Wahid. Dengan bermunculannya aneka koran, majalah, teve swasta, media virtual, piranti gadget, maka menjadi tantangan berat tersendiri bagi LE untuk mampu bersaing dan tetap eksis. Kue iklan yang menjadi “makanan pokok” bisnis pers kini mesti diperebutkan secara bersama-sama. Dan tentu saja ini tidak mudah. Kita berharap, kiranya LE bisa”lulus ujian” lagi pada zaman kiwari ini

Koran Lampung yang terbit perdana Pada Senin, 15 Desember 2008. menambah gegap gempita dunia Pers.
Acara peluncuran Koran Lampung edisi perdana cukup meriah. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat. Hadir dalam kesempatan ini adalah jajaran walikota, jajaran Korem Lampung dan beberapa tamu dari berbagai kalangan dan instansi.
Koran Lampung hadir untuk menjawab tantangan zaman yang membutuhkan keterbukaan informasi, akurat, tajam, aktual dan terpercaya. Media ini dapat menjadi stimulus dalam rangka percepatan pembangunan.
Keterbukaan informasi dari penyelenggara negara, merupakan salah satu menu dalam Koran Ini. Informasi-informasi seputar pembangunan disajikan dengan lugas dan tajam.
Koran Lampung didistribusikan ke-10 Kabupaten/Kota yang berada di Lampung. Kabupaten Lampung Barat, yang merupakan kabupaten terjauh dari provinsi Lampung tak luput dari incaran pemasaran koran Lampung.
Untuk menjawab tantangan informasi melalui dunia maya, koran lampung juga menyediakan informasi edisi On-line. Edisi on-line berisi rangkuman berita yang terbit pada hari tersebut. Pada edisi on-line masyarakat dapat memberikan masukan, komentar, kritik, ataupun saran melalui fasilitas hubungi kami.

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Setelah penulis melakukan PKL selama 2 bulan di surat kabar harian rakyatlampung, penulis menyimpulkan bahwa:
1.Rakrat lampung merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang persuratkabaran, yang senantiasa menyajikan informasi dan beri-beri yang actual dan percaya .2.Prose pemasran dimulai dari proyeksi semua redaktur pada malam hari,kemudian peliput berita pada siang harinya oleh wartawan.
Berita yang telahdiperoleh kemudian diketik dan di mulai pengeditan oleh editor. 
Setelahmemasuki tahap pengediatan kemudian pengecekan oleh copy editor, haltersebut dimaksudkan untuk mengoreksi salah kata, ejaan, kurang huruf. Materiyang telah siap kemudian diatur tata telaknya oleh bagian precetak yangmendesain corel agar tampilannya menarik dan mudah dipahami oleh pembaca.Selanjutnya diprint dalm bntuk astrolon. Pencetakan itu sendiri dilakukan diRakyat Lampung.

4.2 Saran

4.2.1 Saran Untuk Surat Kabar Harian di bandar Lampung

Kelangungan kerja terselenggara berkat bantuan dari segi fasilitas, sarana dan prasarana.
 Adapun factor yang lebih menunjang yaitu dari segi penyajian beritatermasuk tampilan itu sendir.
Oleh karena itu, penulis dengan segala kerendahan
hati memberikan sedikit masukan yang mungkin berguna bagi rakyat lampung, sra penulis adalah sebagai berikut:
1.Karyawan haru tepat waktu
2.Tampilan dan penyajian berita sebaiknya disain semenarik mungkin
3.Halaman Koran lebih diperbanyak 
4.Berita tentang olah raga lebih dilengkapi
5.Untuk pemasaranya lebih ditingkatkankarena masih banyak masyarakat belummengenal surat kabar harian rakyat lampung

3.2.2 Saran Untuk Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Bandar Lampung

1.Membantu mahasiswa mendapkan tempat praktek kerja lapangan(PKL) sudah baik, tetapi ada baiknya ditingkatkan lagi, seperti bekerjasama dengan perusahaan\ seperti Instansi kecil maupun besar.
Harus lebih banyak dan lebihmenjalin hubungan yang baik.

2. Memberikan mata kuliah dengan kebutuhan dunia kerja.































PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.


































DAFTAR PUSTAKA

Surat Kabar Harian Rakyat Lampung. Sejarah Berdirinya Surat Kabar HarianRakyat Lampung

Surat Kabar Hraian Lampung Ekspres. Sejarah Berdirinya Surat Kabar Harian Lampung Ekspres

Surat Kabar Harian Rakyat Lampung. Struktur Organisasi dan susunan personalisaso harian rakyat lampung. Surat Kabar Harian Rakyat Lampung

http://www.lampungpost.com 
http://lampungekspres.blogspot.com/2012/10/dari-tamtama-jadilah-jenderal.html
http://htmlimg3.scribdassets.com/99y1tcgqo01ck8gn/images/75-9ab4316c7f.png